Tuesday, January 12, 2016

1 Januari di Srilanka

Sudah hampir 5 bulan gw tinggal di Srilanka. Sejauh ini, hanya 1 hal yang bikin gw ga suka sama Srilanka. Bukan karena makanannya yang beraroma kari-menyengat, bukan karena bahasanya yang susah dan memiliki 360 huruf, bukan karena panas-gersangnya di daerah tempat gw tinggal. Gw ga suka Srilanka karena ……eng ing eng…. tanggal 1 Januari tidak dijadikan hari libur nasional oleh pemerintah Srilanka. Tanya Kenapa.

Mereka merayakan Tahun baru di bulan April. Mungkin karena penduduk di Srilanka mayoritas beragama Budha (70%) dan Hindu (15%) yang memiliki formula penanggalan tahun tersendiri. Jadinya libur tahun baru mereka bukan 1 Januari. Masih masuk akal kalau mereka ga ngerayain Tahun Baru Masehi 1 Januari karena menggunakan kalender mereka sendiri dalam aktivitas sehari-hari, namun prakteknya mereka tetap menggunakan kalender Masehi tuh. Pas tengah malam pergantian tahun dari 31 Desember ke 1 Januari juga banyak petasan-kembang api berkumandang. Ada juga acara-acara di tempat hiburan untuk merayakan Tahun Baru Masehi 1 Januari ini. Berarti memang banyak warga yang ikut memeriahkan dan menikmati tahun baru 1 Januari. Lucunya lagi, pegawai pemerintah (dan beberapa karyawan swasta) hanya bekerja beberapa jam aja di tanggal 1 Januari, pas siang mereka bubar jalan. Tuhhh kannnn, mendingan sekalian aja lah 1 Januari dijadiin hari libur nasional. Di Indonesia yang mayoritas beragama muslim (menggunakan kalender Hijriah) namun tanggal 1 Januari ditetapkan hari libur nasional.

Kalender Januari Srilanka

Lalu kenapa gw sewot? Toh gw (hanya) pendatang yang cuman dikasi ijin tinggal setahun di Srilanka. Jadi begini, tanggal 31 Desember jam 22.30 di adakan ibadah tutup tahun di gereja. Tanggal 1 Januari jam 1.30 pagi baru nyampe kamar. Cuci muka, sikat gigi, dan siap bobo jam 2an pagi. Jam 6 sudah harus bangun karena ada ibadah awal tahun jam 7 pagi. Harusnya pulang ibadah bisa balas dendam tidur. Namun karena di kalender tanggal 1 Januari berwarna hitam, gw harus kembali beraktivitas di Rumah Sakit, fullll jadi zombie sampai jam 5 sore. Itulah alasan kenapa gw sewot sama hitamnya tanggal 1 Januari di kalender Srilanka. Selain itu, gw sirik sama orang-orang di belahan bumi lain yang libur di tanggal 1 Januari, sedangkan gw…. Mungkin pemerintah Srilanka menggunakan filosofi “Awali dengan kerja keras”. Jadi deh tanggal 1 Januari di itemin.

Hal yang lucu lagi dari kalender Srilanka adalah kejadian Bulan Purnama yang jadikannya tanggal merah (hari libur nasional). Entah apa yag dirayain. Siklus kejadian bulan purnama terjadi setiap bulan, jadi tiap bulan pastinya ada hari libur (asal bulan purnama ga pas hari sabtu atau minggu aja,,biar ga rugi). Andaikan siklus bulan purnama terjadi mingguan, betah deh gw tinggal di Srilanka,,xoxoxoxo. Selain itu, kenaikan Isa Almasih, tahun baru Hijriah, Isra Miraj tidak dijadikan hari libur di Srilanka.


Tanggal merah peringatan bulan purnama

Balik lagi soal tahun baru 1 Januari. Walaupun ibadah tutup tahun dimulai 31 Desember jam 22.30 malam, gw cukup kagum banyak jemaat yang datang. Padahal banyak jemaat yang rumahnya jauh dari gereja dan ini derah yang suepiiii buaaanget. Jam 7 malam aja udah jarang penampakan orang di jalan raya. Walaupun ibadah baru kelar jam 00.30 tengah malam, namun para jemaat masi semangat buat masak air dan menyuguhkan teh susu buat semua jemaat. Salut deh gw, padahal di sini masak masih pake kayu bakar. Di Indonesia yang masaknya pake kompor gas aja gw (dipastikan) ogah disuruh bikin teh susu tengah malam buat jemaat. Ahhhh,,lagi-lagi gw disentil sama yang namanya “Ketulusan Hati.” Gw juga sewot (lagi!!!) karena ibadah awal tahun baru 1 Januari dimulai jam 7 pagi. Padahal baru beres ibadah tengah malam jam 1 pagi. Mbok ya kenapa juga ga dimulai agak siangan dikit, misalnya jam 9 atau jam 10 gitu, biar mata ga terlalu nge-zombie. Walaupun ibadah dimulai (terlalu) pagi, namun tetap banyak jemaat yang datang dengan ”settingan” muka segar. Bikin gw malu datang ke gereja dengan muka ngantuk dan loyo. Langsung ubah setting muka jadi “segar”. Sesegar gajian di awal bulan.

Hari pertama di 2016 gw dapat rejeki. Tiba-tiba ada yang datang ngasi bingkisan atas nama gw. Ternyata ada seorang nenek penderita diabetes (yg biasa cek gula darah dan berobat di RS tempat gw beraktivitas) yang ngasi hadiah tahun baru. Gw emang suka ngobrol sama si nenek ini, walaupun si nenek ga terlalu fasih bahasa Inggris dan gw ga terlalu fasih bahasa sini (Tamil) yang ujung-ujungnya sering menjadikan teman gw yang orang lokal sini buat jadi translator. Yang nganterin hadiah itu cucu si nenek. Dia bilang itu hadiah natal dan tahun baru dari neneknya buat Indonesian Girl. Terharu. Padahal si nenek ga ngerayain natal. Gw dikasi 3 baju, 1 jeans, dan 1 sari. Wuuuuooow. Temen gw ngegoda gw, “Hari pertama di tahun 2016 aja, lo udah dapat rejeki, pasti tahun ini lo penuh berkah.” Gw hanya bisa meng-amin-kan karena bagi gw: setiap hari, setiap tahun gw yakin Tuhan selalu menyertai. Masalah (dan pergumulan) yang terjadi dalam hidup gw ga akan mengurangi rasa syukur atas semua berkat dan penyertaanNya sepanjang hidup gw sampai 2016 ini.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”.

Hadiah tahun baru dari pasien rumah sakit: 3 kaos,jeans,sari :)

Walaupun tahun baru sudah lewat, namun selama kue tahun baru masih tersisa di toples, rasanya masih diperbolehkan gw mengucapkan Selamat Tahun Baru. Semoga kita bisa menjalani hari-hari di depan dengan penuh makna dan tidak sia-sia serta menjadi pribadi yang lebih baik. Angkat dagu, tegakkan bahu, namun rendahkan hati.

Compare yourself only to who you were yesterday. Be your own competition (Quote).

Tuesday, January 5, 2016

Did You Get Your Christmas?

Selama gw tinggal di (pedalaman) Srilanka, gw beribadah di Gereja Methodist St Luke. Di Minggu advent terakhir, gereja mengadakan ibadah perayaan natal. Selama hayat dikandung badan, ini adalah perayaan natal (dan suasana natal) paling sederhana yang pernah gw alami. Bahkan suasana perayaan natal di kampung gw di Sumatera Utara nun jauh di mato sana (yang jaraknya 12 jam dari Bandara Medan) masih jauh lebih ramai dan meriah. Di sini ga ada spanduk natal, ga ada pohon natal cantik, ga ada jemaat yang menggunakan kosmetik dan pakaian heboh, ga ada sepatu hak tinggi yang bunyinya tak tuk tak tuk, ga ada snack natal dari toko kue, dan ga ada nasi kotak menu komplit yang biasanya dibagikan diakhir perayaan. Yang ada hanya pohon natal yang tingginya cuman 1 m serta miskin aksesoris, hiasan natal yang sangat minimalis, biskuit regal yang berperan sebagai snack saat acara hiburan berlangsung, dan nasi bungkus dengan menu nasi dan sayur (tanpa lauk dan sendok) yang dibagikan setelah acara natal tersebut selesai.



Secara keseluruhan acara berlangsung dengan baik. Dasar negara tukang nari, hiburan natal kali ini didominasi sama tarian. Tariannya benar-benar tarian kayak di pelem India: bagus, gerakannya niat dan susah. Gw sangat menikmati hiburan tarian ini, namun saat sinterklas ikut menari India…duhhh gw ga sukakkkk, rasanya wibawa sinterklas jadi turun kalau ikutan nari lincah gitu. Ada juga hiburan baca puisi yang dibawakan sama anak kecil dengan intonasi layaknya baca koran. Selain menari dan baca puisi, ada juga yang hiburan melalui nyanyian yang dibawakan oleh 2 anak kecil. Pas mereka mulai bernyanyi, gw langsung antusias, bosan juga nonton tarian. Ehhhhh,,,baru 1 menit nyanyi, tiba-tiba langsung masuk musik dari tape dan mereka menari. Ternyata oh ternyata, nyanyian di awal cuman prolog sebelum mulai nari. Ettttdahhh,,,dasar PHP (Pemberi Harapan Palsu). Selesai perayaan natal, konsumsi nasi bungkus dibagikan dan semua jemaat makan bersama-sama.



Seperti yang sudah gw sebutkan di awal, memang tidak ada kehebohan fashion di perayaan natal di sini. Maklum, daerah ini memang ekonomi menengah ke bawah. Para Ibu rata-rata menggunakan sari. Tidak ada jemaat yang memakai sepatu. Kebanyakan menggunakan sandal atau sandal jepit. Bahkan banyak juga jemaat yang datang tanpa menggunakan alas kaki. Wajah kaum perempuan di sini juga polos akan riasan. Hampir 100% jemaat yang datang ga ada yang pake lipstik. Cuman 1 orang aja yang pakai lipstik (dan 1 orang itu adalah gw,,,hahaha).

Yang bikin gw sedih melewatkan natal di sini adalah ga ada ibadah malam natal, yang ada hanya ibadah pada tanggal 25 Desember. Jadi benar-benar silent night sampai tertidur Zzzzz. Padahal biasanya malam natal adalah saat yang paling gw suka. Rasanya penuh damai, sukacita, dan ada makna tersendiri di hati gw,,caile. Biar ga makin galau, gw pasang lagu natal dari sore sampai tengah malam….sendirian di kamar. Naseeeeeb.

Saat ibadah perayaan pra-natal dan natal tanggal 25 Desember, gw lumayan kecewa karena tidak ada lagu natal sama sekali. Mereka hanya menggunakan buku lagu. Aduhhhh,,,sedih banget. Padahal lagu-lagu natal cuman didengar setahun sekali dan gw udah antusias banget bakal denger lagu natal versi bahasa Tamil. Untung aja saat ibadah selesai dan jemaat bersalaman-natal, ada jemaat yang ber-solois nyanyi We Wish You Merry Christmas, lumayan deh buat ngeganjel kuping.

Sepulang dari ibadah natal, gw balik ke kamar (gw tinggal di panti jompo). Kebetulan ada yang beramal ke panti jompo dengan memberikan apel, jeruk dan biscuit. Pihak yayasan juga memberikan kue bolu untuk perayaan natal ini. Jadi kami membagikan kepada para jompo masing-masing 1 apel, 1 jeruk, 2 potong bolu, dan beberapa keping biscuit. Benar-benar sederhana, namun ga mengurangi sukacita di hati. Di sore hari, datang lagi warga yang ingin beramal di hari natal. Mereka membawa 5 pepaya ukuran jumbo dan 5 nanas. Dalam keadaan ekonomi yang (bisa dibilang) susah, mereka masih memilki ketulusan hati untuk berbagi kasih buat sesama. Aduh, lagi-lagi gw disentil!!!





Eniwei, ini merupakan pertama kalinya gw natal tanpa keluarga dan sendirian di negeri orang. Gw bukan tipikal orang yang mudah sendu. Jadi saat nyokap nelepon di hari natal, gw biasa aja (walaupun sempat narik napas 3x buat menahan sendu). Saat chat sama teman-teman dan beberapa dari mereka mengkuatirkan gw yang natalan jauh dari keluarga, dengan (sok) bijaknya gw bilang “I am okay”. Gw memutuskan untuk berangkat dan tinggal di Srilanka selama setahun, harusnya gw udah siapin mental untuk ini semua. Jadi buat gw ga masalah natal tahun ini dilewatkan tanpa bersama keluarga. Gw memuaskan diri gw dengan buka google dan browsing gambar nastar, kastengel, putri salju, kue sagu keju, dan blackforest. Gw juga browsing gambar babi panggang dan ayam gulai. Terobati deh kangen gw sama suasana natal di rumah xoxoxo. Hidup itu susah, jangan dibuat makin susah. Tul gak???

Agak sorean gw main ke kamar seorang oma. Dia ngasih gw sebungkus biskuit coklat dan kacang sebagai kue natal. Yeayyy. Pas balik ke kamar, ada opa yang datang ke kamar gw dan ngasi gw cemilan keripik. Ada 3 macam keripik. Dia bilang itu kue natal dari dia. Yeaaaayy. Petugas masak di panti jompo juga datangin gw buat ucapin natal (doi Hindu) dan ngasi gw pepaya. Yeaaayyy. Walaupun gw jauh dari keluarga, Tuhan ga membiarkan gw sendiri. Gw bersyukur Tuhan menempatkan gw di tengah orang-orang baik yang sangat memberkati gw. Gw sungguh merasakan sukacita yang sangat berkelimpahan atas biskuit, kacang, keripik, dan pepaya yang diberikan sama penghuni panti di sini, apalagi secara finansial, mereka sangat kurang mampu daripada gw.

Selama ini, gw hanya sekedar merayakan natal. Gw menikmati suasana natal di rumah, di gereja (dan di mall). Gw hanya sekedar penikmat acara natal yang disuguhkan saat ada perayaan natal. Selain itu, gw juga berusaha menciptakan suasana natal impian: gw sibuk bikin kue, hias pohon natal, masang lagu natal. Hanya demi memuaskan gw sendiri.

Di sini, di Srilanka, ribuan kilometer dari Indonesia, gw belajar banyak hal. Natal itu kelahiran Tuhan Yesus di hati. Apakah selama ini perilaku gw sudah menunjukkan bahwa Tuhan Yesus lahir dalam diri gw? Gw juga diingatkan untuk selalu memberi. Orang-orang di sini, dalam segala kekurangannya, masih tulus memberi. Buah-buahan, biskuit sederhana, kue bolu yang keras. Namun bagi orang lain (para jompo), pemberian itu sangat menyenangkan hati mereka, menunjukkan bahwa masih ada yang memperhatikan mereka, apalagi di hari natal. Melihat para jompo tersenyum di hari-hari mereka yang kesepian benar-benar bikin bahagia. Pemberian itu bukan dilihat dari harganya, namun ketulusan hati untuk mengasihi sesama. Semoga momen natal tidak hanya sekedar menjadi perayaan pemuas mata saja. Semoga setiap harinya hidup kita menunjukkan bahwa Kristus lahir di hati kita.


The only real blind person at Christmas-time is he who has not Christmas in his heart (Hellen Keller).

…And so this is Christmas and what have we done, another year over and a new one just begun…(Song of Happy Christmas).



Sunday, January 3, 2016

Pelayanan Pemuda Tamil-Singapur di Srilanka

Etnis mayoritas di negara Srilanka adalah Sinhala dan Tamil. Etnis Tamil ini berasal dari India. Selain di India dan Srilanka, Tamil juga dijumpai di Malaysia, Singapura, Mianmar, Indonesia (tepatnya Medan), dan di beberapa negara lainnya. Seperti etnis Tionghoa yang bisa ditemui di banyak negara, etnis Tamil juga berkoloni di beberapa negara. Saat ini gw tinggal di daerah Etnis Tamil-Srilanka bagian utara (desa Puttur-Jaffna, 10 jam dari ibukota Kolombo). Mayoritas etnis Tamil di sini beragama Hindu.

Pada tanggal 23 Desember 2015 kemarin, panti jompo (tempat gw tinggal selama di Srilanka) kedatangan 9 pemuda-pemudi dari Gereja Tamil di Singapura. Mereka berencana akan tinggal di Srilanka sampai tanggal 29 Desember 2015. Mereka datang ke Srilanka, bekerja sama dengan Sinode Methodist di Srilanka, dengan agenda pelayanan bagi Etnis Tamil di Srilanka bagian utara. Mereka mengunjungi panti jompo, panti asuhan, sekolah, gereja, dll selama 7 hari. Mereka tidak hanya datang, beramal, dan “nonton” subjek yang mereka kunjungi. Namun mereka juga mengisi acara seperti drama, nyanyi, menari, melakukan games, memberi renungan, dll. Mereka juga mengadakan kegiatan-kegiatan kepemudaan dan aktivitas gereja di sini. Gw (sangat) terpesona sama kegiatan pelayanan mereka di sini. Ini pertama kalinya gw menemukan pelayanan pemuda gereja yang ga masuk logika serta akal sehat gw. Mari gw jelaskan alasan gw bilang pelayanan mereka ga masuk logika gw.

Pertama.
Tujuh orang dari mereka masih kuliah dan 2 orang yang sudah kerja. Walaupun masih tergolong muda, namun mereka mau melakukan pelayanan amal, 7 hari pula. Umumnya para pemuda gereja melakukan pelayanan amal hanya sehari dan hanya 1 tempat. Pelayanan amal yang sehari aja (atau misalnya rencana perayaan natal di gereja) BIASANYA ada drama anggota yang bete jika ada usul mereka yang ditolak forum atau ga suka sama konsep acara, ujung-ujungnya ngambek dan pindah gereja. Padahal untuk siapakah pelayanan yang mereka lakukan?
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”.
Pelayanan amal 7 hari pastinya memerlukan konsep matang (yang disusun sejak jauhhhh hari), penuh pertimbangan, serta kerelaan hati memberikan waktu dan tenaga untuk menyusun rencana pelayanan ini. Mereka pasti ga mau uang yang dikeluarkan selama 7 hari di Srilanka menjadi sia-sia belaka jika konsep tidak matang. Itu semua dilakukan sama anak muda yang sebagian besar masih ngurusin KRS dan IPK,,,hmmmm. Dari mereka bersembilan, ada 1 orang yang bikin gw melting. Dia lulusan army di Singapur dan sudah punya jabatan di sana. Namun tahun lalu dia memutuskan untuk sekolah pendeta. Bener-bener mengingatkan gw sama 1 ayat alkitab. God is calling, how will you answer? “Ini aku, utuslah aku”. Atau……… “Ini aku, utuslah dia.”

Kedua.
Kegiatan ini tidak dibiayai sepenuhnya oleh gereja mereka di Singapur. Mereka murni mencari dana dan sponsor untuk kegiatan amal ini. Mereka juga harus mengeluarkan biaya dari tabungan sendiri. Ditambah lagi trip ini dilakukan 23 – 29 Desember yang notabene adalah peak season, so pasti tiket dan akomodasi akan bertarif di atas harga normal. Halahhh, palingan mereka tajir di Singapur sana??? Hmm, gw sih kurang tau ya, tapi penampilan dan aksesoris yang mereka kenakan sih biasa aja tuh, ga wah-wah banget. Lagipula, kalaupun jika  mereka memang memiliki finansial yang oke, patut diacungi 4 jempol mereka mau datang dan berbagi kasih di pedalaman Srilanka, ga tanggung-tanggung langsung 7 hari dan meninggalkan kemeriahan natal di Singapur. Kalau gw sih mending duitnya gw pakai buat liburan. Sepakat????

Ketiga.
Mereka melakukan kegiatan ini di negara orang, Srilanka. Bukan di negara sendiri, Singapur. Pastinya ini adalah keputusan yang sangat berani dan bertanggung jawab. Jarang-jarang pemuda gereja pelayanan ke negara lain karena membutuhkan konsep, tenaga, waktu, dana, dan koordinasi yang oke punya. Apalagi mereka melakukannya di hari natal, hari yang lazimnya dilewatkan dengan berkumpul bersama keluarga. Singapur gitu loh, salah satu negara tujuan berlibur, pasti kemeriahan natal di Singapur menggoda banget. Saat hari pertama bertemu mereka dan mereka bilang akan melewatkan natal di sini, gw langsung bercanda-sewot “Ngapain kalian natalan di sini, sana pulang ke Singapur!! Harusnya kalian natalan sama keluarga tauuuu.” Dengan cool-nya mereka bilang “Kan kita semua satu keluarga, keluarga dalam Tuhan dan memiliki darah leluhur yang sama. Saya Tamil, mereka Tamil, warga di sini Tamil, dan kamu pun (gw maksudnya) saat ini Tamil.” Wuuowww,,,malu merana deh gw mendengar jawaban dewasa mereka.

Keempat.
Mereka adalah sekelompok anak muda yang tidak terpuruk kegalauan terhadap hal yang berbau anakmuda-oriented; study, kekasih, uang, karir, dll. Sempat-sempatnya mereka memikirkan di belahan bumi lain masih ada etnis mereka yang belum mengalami pertumbuhan rohani, terutama dalam iman Kristen. Memang Christian-spirit di daerah Tamil ini kurang. Masih banyak jemaat gereja yang datang ke gereja namun juga datang ke pura. Semangat natal pun kurang terasa. Gw bukannya membahas aksesoris natal ya (yang memang sangat amat minim sekali di sini), namun yang gw maksud adalah kerinduan akan makna kelahiran dan penebusan Sang Juruselamat bagi dunia. Para pemuda gereja Singapur ini memilih daerah Tamil di Srilanka sebagai destinasi kerinduan mereka untuk melayani. Ini sudah kedua kalinya mereka datang. Tahun lalu mereka datang namun bukan saat natal. Bukan hanya Tamil di Srilanka aja kerinduan mereka, mereka juga sudah program jangka panjang pelayanan bagi Etnis Tamil di negara lain.

Kelima.
Ini yang paling gw ga habis pikir dan benar-benar ga masuk logika duniawi gw. Mereka berada di Srilanka selama 7 hari. Pelayanan mereka hanya dilakukan di wilayah Tamil utara (Jaffna-Puttur dan sekitarnya). Mereka benar-benar fokus di daerah yang memang kurang berkembang secara ekonomi. Fyi, ini bukan daerah wisata. Daerahnya panas-gersang. Ga ada mall. Bioskop ada tapi kecil. Suasana cenderung membosankan. Ga ada yang menarik di sini. Kesimpulannya : benar-benar bukan daerah yang oke untuk dijadikan destinasi saat melancong ke Srilanka. Dannnnnn, ke 9 pemuda ini tidak punya agenda untuk mengunjungi area wisata di Srilanka. Bener-bener langsung cabut ke Singapur. Ondemandeeee. Are u kidding me, dude? Gw jadi inget dosa gw sama kegiatan kepemudaan di Gereja gw di Tangerang. Gw juaranggggg banget ikutan kegiatan persekutuan pemuda. Namun kalau acara jalan-jalan, manggang-manggang, keluar kota, baru deh ikutan. Dengan prinsip “sekalian refreshing”. Malah sejujurnya, refreshing adalah tujuan utama gw join saat ada kegiatan bersama pemuda gereja. Saat itulah gw sadar sungguh betapa tidak-dewasanya gw.

Tanggal 27 Desember kemarin mereka bikin acara natal buat para pemuda Gereja Methodist di wilayah Tamil. Mereka ingin membangkitkan Christian-spirit (dan juga Christmas-spirit) buat anak muda di sini dengan harapan bisa meneruskan pergumulan para pemuda Singapur ini karena memang tidak selamanya mereka bisa terus-terusan mengunjungi Tamil-Srilanka. Gw benar-benar kagum sama 9 pemuda ini. Mereka, anak muda yang semuanya LEBIH MUDA daripada gw, benar-benar memberkati dan mengajari gw apa itu artinya HIDUP dan HIDUP yang tidak sia-sia. Sungguh tragis menjalani hidup hanya berpikir akan pipi yang terlalu tembem, rambut yang sering rontok, jerawat yang ga ilang2, perut yang ga rata, dan sering merasa bosan sama rutinitas (isi hati sang penulis –Yolanda-). Ada buanyaaaaakkkk hal yang harus kita lakukan untuk menjalani hidup menjadi lebih berarti, bukan hanya terfokus terhadap ke-AKU-an. Aku lapar, aku belum naik gaji, aku belum naik pangkat, aku baru putus, aku pingin travelling, dan aku aku aku lainnya yang membuat kita berpikir bahwa “Aku tidak bahagia.”

Real happiness doesn’t come from getting everything you want, it comes from sharing what you have with people who matter.

Semoga apa yang mereka gumulkan dan rindukan akan etnis mereka bisa terjawab. Memang ga bisa kelihatan hasilnya secara instan, pastinya dibutuhkan waktu untuk dapat memetik buah dari benih yang ditabur. Namun jika kita menabur dengan doa dan keyakinan di dalam Tuhan, pastinya tiada yang mustahil BagiNya.

Gw yakin seyakin-yakinnya pelayanan 7 hari mereka di sini bisa berdampak positif dan menjadi berkat bagi orang lain (setidaknya sudah sangat memberkati gw). Mereka ngajarin gw untuk ga egois hanya memikirkan KESELAMATAN gw sendiri. Mereka mengajari gw bahwa kebahagiaan sejati itu bukan apa yang tampak oleh mata manusia. Karena kebahagiaan yang tampak oleh mata manusia akan hilang saat manusia tersebut kembali menjadi abu.

Create a life that feels good on the inside, not one that just looks good on the outside (Quotes).
Selamat menjalani tahun 2016 dengan lebih berarti,kawan.








Thursday, December 31, 2015

Christmas Carol Rumah Jemaat Gereja St.Luke Srilanka

Pada tanggal 21 Desember 2015 kemarin, gw ikutan acara kunjungan natal ke rumah-rumah jemaat Gereja St.Luke Methodist (Puttur, Srilanka). Nama bekennya Christmas Carol. Tim Christmas Carol berjumlah sekitar 15 orang. Kami mulai berangkat jam 9 pagi. Tiga orang dari rombongan menggunakan baju sinterklas (Nimron 8 tahun, Anthoni 23 tahun, dan Opa Mohan 65 tahun). Nimron adalah anak evangelis (gembala sidang) di gereja. Kami menyewa van (semacam elf) karena banyak jemaat yang rumahnya jauh dari gereja. Sepanjang perjalanan di van, rombongan tidak berhenti menyanyi. Gw cuman bisa cengar-cengir kuda dan bantu tepuk tangan karena ga ngerti sama lagunya (lagunya berbahasa Tamil). Kegiatan yang dilakukan tim Christmas Carol di rumah jemaat adalah bernyanyi 2 lagu (saat kami bernyanyi para sinterklas berjoget ria), pembacaan alkitab lalu di tutup dengan doa dan berkat dari pendeta. Rumah jemaat yang dikunjungi sekitar 20-30 rumah.




Puttur Srilanka adalah daerah yang ekonominya menengah ke bawah, jadi banyak jemaat gereja yang kurang mampu. Tidak ada satupun jemaat yang memasang pohon natal di rumahnya. Tetapi yang bikin gw terenyuh adalah kerelaan mereka menyuguhkan minuman dan cemilan untuk menyambut kedatangan kami. Malah ada tuan rumah yang langsung pergi pas kami datang. Pas kami mau pamit pulang, hanya tinggal anaknya yang masih SMP bersama kami. Ternyata si ibu pergi ke warung beli minuman soda dan biskuit untuk kami. Dari semua rumah yang kami datangi, hanya 1 rumah yang tidak kami suguhkan lagu dan tarian dari sinterklas. Pemilik rumah mengalami depresi berat karena anak perempuan mereka bunuh diri beberapa bulan yang lalu karena putus cinta (haishhh!!!!). Jadi kami hanya datang memberikan penghiburan dan pendeta memimpin doa.



Pada siang harinya, kami mengunjungi penjara anak. Ada lebih dari 50 anak tinggal di sana. Kami membagikan bingkisan yang berupa buku dan alat tulis. Walaupun hanya minoritas yang merayakan natal, namun semua anak dari berbagai agama turut serta bergabung dan menari bersama. Setelah menari-menyanyi, renungan natal singkat dari pendeta serta pembagian bingkisan, kami meninggalkan tempat tersebut. Alangkah sedihnya masih kecil harus tinggal terpisah dengan orang tua dan menjalani hukuman. Semoga mereka tidak lagi kembali ke penjara anak jika mereka kelak dibebaskan.



Dari penjara anak, kami kembali melanjutkan Christmas Carol ke rumah jemaat gereja.

Kunjungan yang menurut gw paling berkesan adalah rumah jemaat yang terletak di pinggir lapangan. Jemaat ini bisa dikatakan miskin. Rumahnya hanya ada 1 ruangan dan 1 dapur kecil tanpa sekat dengan ruang utama. Tinggi rumah rasanya ga sampai 1.8 meter dan WC terletak di luar rumah. Karena rumah sangat kecil dan tidak ada teras, acara dilakukan di lapangan depan rumah sambil bermandikan terik matahari. Alhasil kami sukses jadi tontonan warga yang tinggal di sekitar lapangan. Selesai acara, tuan rumah menyuguhkan teh susu dan biskuit.



Hampir setiap rumah menyuguhkan teh susu dan biskuit. Teh susu memang minuman yang sangat populer di sini. Dapat dipastikan kadar gula darah gw melambung tinggi. Mau nolak suguhan tuan rumah tapi ga enak takut dikira somse (maklum bukan warga lokal, jadi harus jaim dikit). Lagipula kasian sama tuan rumah yang sudah repot menyediakan. Yasudalahya, gw yakin hormon insulin gw masih bisa bekerja dengan baik untuk memproses glukosa dari suguhan berliter-liter teh susu yang masuk saat Christmas Carol ini.

Selain rumah jemaat, kami juga mendatangi panti jompo. Gereja dan panti jompo memang 1 sinode (Methodist) dan terletak dalam 1 komplek (gereja bersebelahan dengan panti jompo). Lucunya, karena bangunan panti jompo bentuknya melebar dan banyak jompo yang sudah susah jalan jauh, kami bernyanyi 3 kali di panti jompo ini yaitu di sayap kanan, di ruang bagian tengah, dan sayap kiri. Yah ga papahlah, demi bisa melihat senyum dan tawa para opa oma. Walaupun banyak penghuni panti jompo yang tidak merayakan natal, mereka semua ikutan berkumpul, bergembira bahkan ikut menyumbang dana natal.

Rumah terakhir yang kami datangi adalah rumah evangelis (gembala sidang) yang terletak persis di sebelah gereja. Ini memang rumah dinas khusus evangelis yang melayani di gereja. Setelah joget-joget selesai, tiba-tiba Nimron (anak evangelis yang hari ini berperan jadi sinterklas) menangis kencang. Kita semua kaget karena seharian ini Nimron joget penuh semangat di rumah-rumah jemaat kok tiba-tiba di rumah sendiri dia nangis histeris. Ternyata eh ternyataaaaa….Nimron sedih dan terharu karena 4 Januari 2016 keluarga evangelis ini akan dimutasi ke daerah lain untuk menjadi evangelis di wilayah tersebut. Ayah Nimron sudah 5 tahun melayani di gereja ini sebagai evangelis, jadi Nimron merasa sedih karena perpisahan sudah di depan mata. Aduh Nimron, pastinya nanti jika sudah dewasa kamu jadi pria yang romantis abeeees.

Tepat jam 19.30 kegiatan Christmas Carol ini berakhir. Ruarrrrr biasaaaaa capek pake banget. Badan lengket, kaki pegel, perut kembung karena berliter-liter teh susu dan kafeinnya. Gw yang ga doyan minuman manis dan juaranggggggg banget minum minuman manis apalagi teh susu (biasanya gw hanya minum teh hitam atau teh hijau tanpa gula) langsung merasa migraine karena seharian kemasukan berliter-liter teh susu yang aduhai manis banget buat standar lidah gw. Namun gw sedemikian rupa bahagianya bisa ikut ambil bagian untuk mengunjungi jemaat-jemaat gereja. Melihat langsung keadaan dan kesederhanaan mereka, melihat ketulusan mereka menyambut kami, melihat kebahagiaan mereka karena dikunjungi, melihat senyum yang muncul di wajah mereka saat kami bernyanyi dan para sinterklas berjoget. Gw juga tersentuh dengan tetangga-tetangga jemaat yang ikutan menyambut dan “menonton” kami walaupun mereka tidak merayakan natal.

Sungguh indah melihat orang lain tersenyum, apalagi jika mereka tersenyum karena kita. Semoga kita selalu bisa menjadi alasan untuk membuat orang lain tersenyum dan bahagia. Senyum itu bersifat menular. Jika orang lain tersenyum, maka otomatis kita yang melihatnya juga tertular. Walaupun gw ga tau makna lagunya,bacaan kitab,dan doa (menggunakan bahasa Tamil), namun yg gw tahu bahwa mereka tersenyum karena mereka masih punya banyak alasan untuk tersenyum. Because everyone smiles in the same language. Please smile and let the pain go.



Tuesday, December 22, 2015

Sheromy, Teman Baikku di Negeri Kari

Selama tinggal di Srilanka, gw punya teman baik, namanya Sheromi. Kami bertemu di gereja. Dia 3 tahun lebih muda daripada gw. Orangnya baik, cantik, bersahabat, dan lucu. Dia dan keluarganya aktif di gereja. Sherom kurang lancar berbahasa Inggris. Kalau ada pembicaraan kami yang mampet karena terkendala bahasa, dia langsung manggil mamanya atau siapapun yang ada disekitar kami buat jadi penerjemah. Gw dan Sherom adalah orang yang saling men-sirik-i satu sama lain. Sherom sirik sama kulit gw yang dia anggap putih, dan gw sirik sama badan Sherom yang kurus. Sherom punya 2 kakak dan 2 adik. Kakak Sherom yang tertua sudah menikah dan tinggal di luar kota, sedangkan kakak keduanya tinggal di Swiss.

Beberapa waktu yang lalu, Sherom nemenin gw beli kartu natal di kota, pulangnya gw dibawa main ke rumah dia. Saat lagi ngobrol sama mamanya Sherom, tiba-tiba Sherom bilang kalau gw harus ngobrol sama kakaknya di Swiss yang bernama Rebeka. Ebusyhettt. Kaget lah gw. Kenal juga kaga, garing banget, harus ngomong apa gw? Tanpa babibu, Sherom nelepon kakaknya via skype dan hape nya disodorin ke gw. Nah lo!!!! Mulailah gw ngobrol sama Rebeka. Lucunya, Rebeka tau banyak tentang gw, ternyata selama ini Sherom cerita banyak soal gw ke Rebeka. Rebeka juga orang yang ramah. Baru kali ini gw skype-an sama orang yang ga gw kenal tetapi ketawa ngakak sepanjang pembicaraan. Malah Rebeka ga malu untuk nangis pas cerita rindunya dia sama Srilanka karena sudah 3 tahun tinggal sendiri di Swiss. Gw yang merasa senasib sama Rebeka karena tinggal jauh sendiri di negeri orang jadi terhibur dengan semua cerita Rebeka. Namun Rebeka lebih sulit karena tinggal di negara Barat yang rasa kekeluargaannya tidak seperti negara timur. Di akhir pembicaraan, kami 2-orang-yang tidak-saling-kenal saling menguatkan satu sama lain selama tinggal di negeri orang. Setelah lebih dari setengah jam, gw pindahin itu skype ke mamanya Sherom, ga enak bokkk lama-lama ngobrol pake hape orang.

Belum selesai “kelucuan” Sherom, ini anak berulah lagi. Tiba-tiba dia nyodorin hape yang lain, katanya gw harus ngobrol sama kakaknya pertamanya yang tinggal di luar kota (duh lupa gw namanya, sebut saja namanya Mawar). Belum sempat gw protes, si Mawar udah nyapa duluan “Hei Yolanda bla bla bla”. Lalu ngobrol lah kami layaknya orang yang sudah kenal lama karena ternyata Sherom juga sering cerita tentang gw ke Ka Mawar ini. Saat lagi teleponan, Ka Mawar lagi ada acara Family Gathering dari kantor suaminya namun dia tetap antusias ngobrol sama gw. Kata Ka Mawar, Sherom sering cerita tentang gw karena dia senang punya teman baru dari luar negeri yang kulitnya putih. Aduh Sherommmmmm, polos banget sih engkau nak. Pembicaraan diakhiri dengan ancaman dari Ka Mawar bahwa gw harus datang ke rumah Sherom saat Januari 2016 pas Ka Mawar mudik ke Rumah Sherom.

Setelah ngobrol panjang sama keluarga Sherom dan ngabisin 1 kotak es krim, gw pun pamitan pulang. Sherom nganterin gw pulang ke panti jompo tempat gw tinggal yang di tempuh 5 menit naik bus yang ongkosnya seribu perak. Hari yang aneh. Bisa-bisanya gw teleponan lama sama orang yang ga gw kenal. Ternyata selera lucu-lugu Sherom belum berakhir. Sebelum naik bus Sherom ngajak gw mampir ke toko langganannya. Gw pikir Sherom mau beli sesuatu. Sampai di toko, Sherom ga beli apa-apa. Ternyata Sherom ngajak ke toko itu karena yang punya adalah mantan bos nya dan bisa bahasa inggris, jadi bisa ngajak gw ngobrol. Ampun deh Sherommmmmm. Kamu kok ya lucu banget jadi warga Srilanka. Bos Sherom ini seorang bapak berusia akhir 40 atau awal 50. Ngobrol panjang lah kami. Lumayan dapat minuman gratis. Hahahaha.

Setelah keluar dari toko, gw nanya ke Sherom “Siapa lagi yang bisa bahasa inggris yang mau kamu kenalin ke aku Sherom?” Sebenarnya itu pertanyaan sarkasme. Tetapi gw lupa kalau Sherom itu wanita lugu yang ga terbiasa dengan sarkasme. Dia jawab “aku punya teman baik yang kerja di apotek, dia kurang lancar bahasa inggris, tapi kalian bisa ngobrol karena dia orang baik.” Gw cuman bisa melongo karena Sherom langsung narik tangan gw pergi ke apotek yang ga jauh dari toko mantan bos nya itu. Sampailah gw di apotek dan gw berasa jadi ondel-ondel karena apotek lagi ramai dan pada ngeliatin gw. Daerah tempat gw tinggal memang desa sepi jadi kehadiran orang asing bikin tontonan tersendiri. Untung pegawai apotek ramah semua jadi gw enjoy-enjoy aja “dikerjain” Sherom.

Dari apotek, kami langsung ke terminal dan pulang ke panti jompo naik bus. Untung Sherom ga kenal kondektur dan supir bus nya. Kalau Sherom kenal mereka, bisa dipastikan gw akan dikenalin dan disuruh ngobrol sama supir dan kondektur tersebut. Di bus, Sherom bilang, suatu saat akan ngajak gw ke rumah tantenya. Dia bilang tantenya baik dan lancar berbahasa inggris. Terserah ngana deh Sher.

Terimakasih Sherom untuk keluguanmu, untuk kelucuanmu, untuk kebaikanmu, untuk penyambutanmu, untuk keluargamu, untuk mantan bos-mu, untuk teman-temanmu. Gw yakin Sheromi pingin gw nyaman dan senang tinggal di negara dia jadi dia nunjukin semua hal yang dia sayang dan dia anggap baik. Sherom yang baik. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.



St.Luke Methodist Hospital

Ada 3 hal yang gw benci: rumah sakit (RS), darah, dan dokter. Menurut gw rumah sakit itu beraroma kematian. Kalau darah, gw parno sama darah karena punya pengalaman buruk saat donor darah pertama (dan terakhir) kali pas SMA. RS dan darah itu identik dengan dokter, gw jadi ikut-ikutan benci sama dokter. Jarannnggg banget gw berobat ke dokter. Kalau orang lain sakit, biasanya mereka akan kehilangan nafsu makan dan lemas. Kalau gw beda, gw makin nafsu makan, biar cepat sehat, jadi bisa terhindar dari dokter dan RS. Pepatah bilang, jangan terlalu benci sama sesuatu, ntar kualat malah berjodoh. Dan gw kena kualat di Srilanka.

Di Puttur (desa kecil di utara Srilanka), gw ditempatkan di RS, tempat yang gw benci selama hayat dikandung badan. Karena ini daerah masyarakat menengah ke bawah, bukan hal yang aneh kalau pasien datang dengan sarung atau tanpa menggunakan alas kaki. Di RS ini gw bertemu pasien dengan segala keunikannya. Pasien yang bawel, pasien yang tampan, sampai pasien yang minta akun facebook. Karena ini desa kecil dengan rumah sakit kecil, jadi pasien yang datang ga terlalu banyak mudah diingat. Terkadang pasien datang sambil bawa buah tangan macam sekantong permen, buah, kue-kuean, bahkan beberapa pernah kirim kartu natal dan undangan nikah. Semoga aja ada pasien tajir nan baik hati yang ngasi tiket liburan ke Indonesiahhh.



Pengalaman yang paling membekas selama gw beraktivitas di RS ini adalah seorang pasien ibu muda yang menggendong bayi berusia 14 hari. Ibu muda ini cuman datang berdua dan naik kendaraan umum. Miris sih, ibu ini kan baru 2 minggu lahiran, pastinya masih sakit. Menggendong bayinya yang masih merah. Tetapi pasti ada alasan logis yang membuat suami ataupun kerabat si ibu ini tidak ada yang menemani. Si bayi mengalami infeksi di bagian pusarnya. Mungkin ada sedikit masalah sewaktu pemotongan ari-ari. Karena ini RS kecil dengan sarana yang terbatas, si ibu dirujuk untuk ke RS yang lebih besar (di kota) keesokan harinya (si ibu datang di sore hari sekitar jam 17.30). Dokter meresepkan salep infeksi untuk penanganan sementara. Biaya konsultasi dokter 20.000 dan harga salep infeksi 20.000 sehingga totalnya 40.000 yang harus dibayar. Ternyata, si ibu cuman punya uang 10.000 doank. Astagaaaah. Gw yang selama ini kerja hanya kontak dengan komputer dan rekan kerja (yang rata-rata semua terlihat baik secara finansial), bener-bener merasa tersentuh dengan kejadian ini. Lalu dokter menginstruksikan memberikan krim yang tinggal setengah tube (krim ini dipakai oleh pasien sebelumnya dan ditinggalkan di Rumah Sakit). Pasien ini juga tidak dipungut biaya periksa dokter. Kalau uang si ibu ini cuman 10.000 besok ke Rumah sakit gimana? Makan malam? Makan pagi? Tuhan lah yang akan memelihara umatnya.

Kalau di Indonesia, terkadang pasien menerima obat yang dimasukkan ke dalam plastik obat (biasanya kalau berobat ke puskesmas atau rumah sakit umum) tanpa ada kemasan strip atau blister karena pihak pabrik mengemas dalam wadah yang berisi sekitar 100-1000 per wadah. Nah kalau di rumah sakit ini, wadah plastik diganti dengan kertas roti yang dibentuk seperti angpao.

Kertas roti yg dilipat jd angpao utk wadah obat yg diberikan ke pasien

Menurut gw sih ga efektif, soalnya bagian atas hanya di lipat aja, jadi ada kemungkinan obat tumpah. Lagipula kalau kena cairan, kertas tersebut akan hancur dan akan merusak obat. Tapi ini masih mending, ada Rumah Sakit yang ga jauh dari sini, bungkus obatnya pakai kertas bekas. Ondemandeee, dikira ngebungkus gorengan apa??? Gw jadi ingat saat masih kerja di pabrik obat. Tiap hari suhu ruangan dan jumlah bakteri dalam ruangan di ukur. Proses produksi ga boleh dimulai sebelum semuanya oke. Suhu ruangan lewat 1°C atau jumlah bakteri lebih sedikit harus bikin laporan penyimpangan dan dilakukan investigasi. Bener-bener remfoooong dan harus zero mistake. Setelah melewati prosedur yang rumit dan syarat ini-itu yang ketat sampai obat berhasil dikemas dan dijual, ternyata pihak rumah sakit malah bungkus obat pake kertas bekas. Rasanya tuhhhhhhhh….


Obat dibungkus di kertas bekas (rumah sakit competitor)


Hal menarik lainnya yang gw temuin di rumah sakit ini adalah pasien yg gw kategorikan L3b4y. Terkadang, luka se-iprit aja datang untuk diobati (missal lecet dikit karena jatuh). Jadi penanganannya hanya dibersihkan dengan alkohol dan diberi povidone iodine. Udah gitu aja. Ga dalam pula lukanya. Aelahhhh… Di tambah lagi, pasien kembali datang beberapa hari kemudian untuk ganti perban. Dan ini Banyak loh pasien yang datang dengan luka-yang-tidak-niat. Kadang gw minta suster untuk edukasi ke pasien agar mereka nyetok obat P3K untuk luka ringan. Palingan ga sampai 20.000, kan lumayan irit uang. Tapi kalau pasiennya datang dengan luka serius dan penuh darah, gw langsung kabur. Ga peduli walaupun pasiennya setampan Taylor Lautner. Hiyyyy.

Sejak gw di Srilanka dan mengenal lebih dalam aktivitas rumah sakit. Paradigma gw akan profesi dokter-suster yang selama ini negatif di pikiran gw berubah. Sekarang gw mengagumi mereka. Angkat cangkir kopi buat mereka. Siapapun pasiennya, apapun penyakitnya, apapun lukanya dilayani dengan tangan terbuka. Apalagi jika menghadapi pasien yang tidak mampu, di mana hati nurani mengambil peran. Dulu gw sebel kalau lagi berobat ke RS (apalagi RS pemerintah atau puskesmas) dan ketemu dokter atau suster yang gak ramah. Namun sekarang gw mengerti, mereka lelah seharian menghadapi pasien dengan segala macam karakter. Memang manusia tidak pernah bisa mengerti dengan baik perasaan orang lain kecuali jika kita berada di posisi mereka.

If u were me, you’d know. But you’re not, so don’t  think you do (Quotes)

Selamat melayani dengan hati wahai paramedis berseragam putih.



Mari Menabur Perbuatan Baik

Di awal desember 2015 kemarin, panti jompo kami kedatangan penghuni baru, 2 orang lansia perempuan kakak beradik. Sejak lahir mereka tidak bisa berbicara (bisu) dan tidak bisa mendengar (tuli). Mereka juga punya adik cowo yang juga menderita bisu-tuli, namun sudah menikah. Ga kebayang deh gimana perasaan orang tua mereka saat mendapati semua anak mereka bisu-tuli. Pastinya orang tua mereka mengkuatirkan masa depan anak mereka. Namun bukankah Tuhan senantiasa memelihara anak-anakNya? Sekarang kedua kakak beradik bisu tuli ini  berusia 60 tahunan.

Beberapa puluh tahun yang lalu, sewaktu mereka masih muda dan orang tua mereka masih hidup, mereka mempunyai tetangga yaitu kakak beradik yang masih kecil. Kakak beradik ini menjadi yatim piatu di usia yang masih dini sehingga keadaan mereka miskin sekali. Si adik miskin ini (selanjutnya di sebut A) sering di ajak main sama perempuan bisu tuli ini. Sering diberi perhatian, makan, dan dibantu kebutuhan sehari-hari oleh perempuan bisu-tuli dan keluarganya. Tahun berganti tahun, si A kemudian sukses dan bekerja di Swiss. Tiga tahun yang lalu orang tua perempuan bisu-tuli meninggal dan mereka hanya tinggal berdua. Si A kembali ke Srilanka untuk liburan sebelum kembali bekerja di Swiss. Si A yang pernah mendapat kebaikan dari 2 perempuan bisu-tuli ini berinisiatif mengirimkan mereka ke rumah jompo dan akan menanggung iuran bulanan mereka. Si A merasa kuatir jika perempuan bisu-tuli tinggal hanya berdua tanpa adanya orang normal, akan ada orang yang berbuat jahat karena mengetahui keterbatasan fisik penghuni rumah. Lagipula sejak orang tua perempuan bisu-tuli ini meninggal, mereka memilki masalah finansial. Memang agak susah mencari pekerjaan untuk orang yang mengalami keterbatasan fisik. Sekarang dua perempuan bisu-tuli ini menjadi penghuni tetap panti jompo dengan supply dana dari si A. Beberapa hari setelah mengantar ke panti jompo, si A balik ke Swiss.

Ada tiga hal yang menarik dari cerita ini.

Pertama. Walaupun mengalami kekurangan fisik, kedua perempuan bisu-tuli ini bisa menjadi berkat bagi sekitarnya. Mereka tulus menolong tetangga mereka yang miskin. Pertolongan bukan hanya dari segi material, namun juga bisa berupa perhatian dan kasih sayang. Tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Tuhan memakai dua perempuan yang cacat ini untuk membantu sesama. Orang yang cacat saja mau membantu dan menjadi berkat bagi orang kain, harusnya orang yang dilahirkan normal bisa melakukan lebih toh?

Kedua. Tuhan pasti akan selalu memelihara umat yang berserah padaNya. Hal yang wajar jika kedua orang tua perempuan bisu-tuli ini sedih dengan keadaan anaknya yang cacat. Pasti mereka kuatir akan masa depan anak mereka. Mending kalau hanya 1 yang cacat, kenyataannya semua anak mereka cacat. Namun Tuhan membuktikan janji pemeliharaan bagi umatNya. Di usia yang sudah tua, Tuhan memelihara mereka melalui perantara tetangganya. Burung di udara aja yang tidak pernah menanam dan menabur, namun mereka di pelihara Tuhan. Apalagi manusia yang merupakan ciptaanNya yang paling mulia. So, janganlah kiranya kita kuatir akan hari esok, apa yang akan kita makan, dan apa yang akan kita minum.

Ketiga. Gw yakin banget seyakin-yakinnya, dahulu waktu si A masi kecil, kedua perempuan bisu-tuli ini ga akan nyangka si A jadi sukses. Pasti ga sekalipun terpikir “kita tolong si A yuk, nanti kan si A kalau besar sukses dan balik akan menolong kita”. No. Mereka benar-benar tulus menolong tanpa mengharapkan pamrih. Apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai. Tuaian itu bisa berbuah 2x lipat, 10x lipat, 100x lipat bahkan ribuan kali lipat. Dan waktu menuai mungkin bukan hari ini, esok, minggu depan, dll. Namun Tuhan sudah menetapkan waktu tuai yang sempurna bagi masing-masing orang. Perempuan bisu-tuli ini menuai beberapa puluh tahun kemudian. Gw jadi ingat Oma Jeya, penghuni jompo yang mengalami gangguan jiwa. Oma Jeya tidak punya saudara dan orang tuanya sudah meninggal. Iuran bulanan panti jompo Oma Jeya ditanggung pemerintah. Selama tinggal dipanti jompo, cuman 1 orang yang rutin mengunjungi Oma Jeya, yaitu tetangganya yang sudah tua. Tetangga ini selalu terkenang kebaikan orang tua Oma Jeya sewaktu mereka masih hidup. Orang tua Oma Jeya selalu membantu tetangga ini. Sekarang tetangga ini membalas kebaikan orang tua Oma Jeya dengan rutin mengunjungi Oma Jeya dan terkadang memberikan uang kepada Oma Jeya. Padahal tidak pernah ada satu pun keluarga Oma Jeya yang mengunjungi Oma Jeya.

Gw pernah baca artikel, saat lagi sedih dan merasa ga berguna, coba deh melakukan kebaikan terlebih kepada orang yang tidak dikenal, misalnya memberi makan tukang becak atau pengemis. Membayar lebih dagangan jika penjualnya sudah tua, dll. Pasti ada semangat baru setiap kali melihat senyum orang yang menerima kebaikan kita. Beneran loh terbukti. When you see poor people smile, it means smile of God. Hal kecil yang kita lakukan bagi orang lain, mungkin bisa jadi merupakan hal besar yang diterima orang tersebut.


Apa yang kita tabur, itu pula yang kita tuai. What you put out into the world, comes back to you. Selamat berbuat baik tanpa pamrih teman.

Between the angels