Sunday, November 29, 2015

Rambut Panjang Perempuan Srilanka

Gw punya kebiasaan yang (ga) penting (banget) kalau ada tamu di kantor atau lagi dinas luar kantor di mana tugas gw adalah menjadi pendengar yang baik (biasanya diajak meeting, dengerin sales, dengerin seminar, dll). Kegiatan itu mengharuskan gw menunjukkan mimik muka yang antusias dengerin orang ngomong. Biar terlihat antusias dan tidak bosan, biasanya gw akan menatap tajam pembicara dari atas sampai bawah. Orang-orang menduga gw lagi konsentrasi dengerin pembicara, padahal sebenarnya gw lagi memperkirakan umur pembicara. Data pendukung tebak-tebakan umur ini adalah keriput, bentuk tubuh, cara make up, cara bicara, pakaian yang dikenakan, dll. Di akhir pertemuan, gw berusaha mencari tahu umur mereka (tapi bukan dengan menanyakan langsung ke orangnya). Kesimpulan pribadi dari eksperimen ga penting gw selama bertahun-tahun ini adalah: untuk kaum pria, ke-buncit-an perut mereka membuat mereka terlihat lebih tua. Untuk kaum perempuan, mereka terlihat lebih muda dari umur sebenarnya (awet muda) jika mereka berambut pendek. Yah mungkin berambut pendek membuat perempuan terlihat lebih fresh. Buktinya tiap kali ada teman yang potong rambut, mereka terlihat lebih segar.

Gw sendiri ga pernah memanjangkan rambut di bawah bahu. Selalu mentok di bahu. Bukan karena ingin terlihat awet muda, alasan utamanya malas sisiran dan boros sampo (realistis pelit-is). Di Indonesia, cukup banyak perempuan yang berambut pendek, apalagi ibu-ibu. Ga terlalu banyak ibu-ibu yang memanjangkan rambut mereka (selain artis). Maklum deh, negara tropis, gerah coy.

Di Srilanka, mayoritas perempuan yang sudah puber memanjangkan rambut mereka. Di daerah Puttur Srilanka, jaraaaang banget gw ketemu sama perempuan yang berambut pendek. Paling hanya anak kecil yang berambut pendek. Kategori panjang ga cuman sampai bahu, banyak yang sampai pinggang. Bahkan para oma di panti jompo tempat gw tinggal, masi memelihara rambut panjang mereka. Hanya oma yang mengalami gangguan jiwa aja yang dipotong pendek, karena mereka tidak bisa mengurus sendiri rambut mereka. Kadang gw suka iseng ngajak oma-oma ini potong rambut, mereka sewot dan malah ada yang bilang saat dikubur harus dalam keadaan rambut panjang. Segitunyaaaaa si omaaaa.

Padahal Srilanka juga termasuk negara tropis. Suhunya beti (beda tipis) sama suhu di Tangerang tercinta. Ga hanya manjangin rambut, mereka juga rajin merawat rambut. Mereka selalu mengoleskan minyak kelapa di rambut. Minyak kelapa banyak di jual dalam berbagai merek di Srilanka. Lazimnya, minyak kelapa digunakan malam-malam menjelang tidur dan keesokan pagi langsung keramas. Namun di Srilanka, minyak kelapa terkadang mereka gunakan di rambut dalam aktivitas sehari-hari mereka. Ga risih apa ya rambut berminyak lepek gitu?

Sayang beribu sayang, jarang banget rambut panjang mereka di gerai lepas. Mayoritas gaya rambut mereka di ikat atau dikepang. Bahkan para siswi yang ke sekolah, style nya sama semua, di kepang dua. Untuk siswi SD yang kebanyakan berambut pendek, boleh di ikat 1 walaupun rambut cuman seiprit. Katanya sih itu peraturan sekolah di sini. Jadi mungkin kebiasaan dari sekolah itu terbawa sampai dewasa. Pernah gw memohon dengan sangat sama teman gw yang orang sini supaya rambut mereka di gerai lepas, dan usul gw ini di tolak mentah-mentah. Entah mengapa.

Sejak tiba di Srilanka, masyarakat di sini menebak umur gw lebih muda 4-6 tahun dari umur gw sebenarnya (ahhhh,jadi betah di Srilankaaaa). Mungkin ada hubungannya dengan teori gw di paragraph pertama (rambut pendek = terlihat awet muda). Teman gw, orang lokal di sini (sebut saja si A)ngajakin taruhan. Kalau gw bisa tahan ga potong rambut sampai pulang ke Indonesia (gw rencana tinggal selama setahun di Srilanka), si A janji traktir gw makan enak sepuasnya. Sekarang udah 3 bulan lebih gw di Srilanka. Sebenarnya gw udah pengen buaaanget potong rambut, gerah booo, tapi gw masi merelakan rambut gw menggondrong. Agak ngeri potong rambut di negara orang, takut gatot…gagal total. Si A pikir, gw belum potong rambut biar menang taruhan. Sumpah demi Taylor Lautner, gw sama sekali ga antusias sama iming-iming traktiran makan sepuasnya itu. Palingan juga traktirannya makanan serba kari. Muuuuaaaalesssss. Gw yang sejak tinggal di Srilanka sangat merindukan Mie rebus dengan topping daging babi (I miss so much more Ikudo….Baji Pamai), dilarang ga potong rambut 2 tahun juga gw rela rela rela la la la…. asal bisa makan mie rebus topping daging babi.

Nb: Kepada saudari Reni Hayati Liana Simbolon, gw masih simpan chat kita di WA, lo janji ngajak gw makan (baca: traktir) mie haram sepulang gw dari negeri kari ini. Daya ingat gw sangat bagus ren kalau soal ajakan makan.


Kompilasi rambut panjang

Style rambut anak sekolah

Sakawwwwwww

Hotel = Restoran

Setiap pagi gw selalu dibangunin sama aroma masakan nyokap dari dapur. Yupp, nyokap dari subuh sudah berkutat di dapur bikin sarapan heboh. Mulai dari nasi, sayur, hingga lauk. Lengkap 4 sehat. Engga 5 sempurna, susunya nebeng susu gratis di kantor, PRODUGEN (maaf promosi). Memang banyak orang Indonesia yang sarapan makanan berat. Mungkin hanya sebagian yang sarapan roti, sereal dan makanan kecil lainnya (yang gw anggap cuman ngotorin gigi).

Berbeda dengan di Srilanka, gw ga menemukan kehebohan persiapan sarapan di dapur. Untuk sarapan, orang Srilanka (khususnya etnis Tamil) mengkonsumsi makanan sederhana khas Srilanka yang didominasi dari tepung dan oil-free. Jarang ada menu sarapan di Srilanka yang menyediakan nasi komplit beserta teman-temannya. Kalaupun ada menu nasi, paling hanya dibarengi sama sambal khas Srilanka (nama sambalnya = SAMBAL…..iya beneran nama sambal di sini SAMBAL) yang dibuat dari kelapa parut, bawang merah mentah, cabe bubuk dan jeruk nipis. Mengenai makanan khas Srilanka akan gw bahas di postingan berbeda. Enak juga jadi ibu rumah tangga di Srilanka, pagi-pagi ga kelimpungan bikin sarapan menu komplit.

Awal-awal gw tinggal di Srilanka, karena sarapan yang disediakan kurang nendang, gw sering kelaparan di jam nanggung (jam 10 atau 11 siang). Kadang abis sarapan gw suka kabur cari makanan di luar. Sialnya, jarang ada rumah makan yang buka di pagi hari, kalaupun ada yah menu yang dijual cuman menu sarapan ringan, belum jualan menu komplit lauk-pauk. Kontras banget sama di Indonesia, selama gw bergelar anak kos (yang selalu beli makan di luar), gw dengan mudah nyari sarapan nasi komplit. Warung nasi bebek aja udah buka dari pagi, bahkan beberapa rumah makan banyak yang buka 24 jam. Temen-temen kantor gw pagi-pagi udah jajan nasi-soto, bubur ayam, nasi uduk sampai nasi warteg komplit.

Banyak karyawan di Srilanka yang bawa bekal makan siang. Lucunya bekal mereka ga ditaruh di ompreng (kotak makan) seperti bekal di Indonesia. Mereka menaruh di kertas makan yang di dalamnya dilapisi plastic. Kertas wadah ini ga dikaretin atau di staples, cukup dilipat aja (seperti amplop). Jika ada kuahnya, maka kuah di letakkan diplastik kiloan. Wahhhh, kayanya Lion Star atau Tupperware harus melebarkan area pemasaran mereka sampai ke Srilanka nih.

Saat makan di restoran lokal atau saat ada acara makan-makan bersama dengan jumlah orang yang banyak, bagian atas piring selalu dialasi sama selembar plastik bening. Jadi makanan ga nyentuh sama piring. Kalau ada makanan sisa di piring, tinggal lepas bagian plastik yang nempel terus buang ke tempat sampah. Hemat air dan sabun cuci piring sih tapi kalo ketauan anggota Green Peace bisa diomelin tuh, plastik kan susah diurai bumi.

Porsi makan di sini ajubileh gueeedenya. Apalagi porsi nasinya,,ampun makkk. Kadang saat beli makan di luar atau dikasi nasi kotak gw hanya sanggup makan setengah, kadang sepertiganya. Padahal fisiologis orang sini jarang yang endut-endut. Ga adillll,,,,gw yang makan cuman seiprit tapi ga kurus-kurus kaya orang sini. Selain itu orang Srilanka juga jarang menggunakan sendok, kebanyakan langsung menggunakan tangan walaupun makanannya berkuah. Kalau makanan berkuah panas, maka akan ditunggu sampai dingin. Beberapa kali gw mampir ke rumah makan lokal, mereka ga pernah menyediakan sendok.

Ngomong-ngomong soal rumah makan, pas sampai di Srilanka, di sepanjang jalan banyak rumah-rumah kecil dengan Papan Nama HOTEL. Waduhhh, gw langsung mikir ini daerah prostitusi, moso banyak hotel kecil-kecil gitu di sepanjang jalan. Ternyata eh ternyataaaa, HOTEL tuh artinya rumah makan. Hahaha. Tapi sampai sekarang gw masi canggung nyebut “Hotel” kalau pamit mau beli makanan….”eh gw mau ke Hotel dulu ya”…. Kesannya mau ngapain gituuuu mampir ke hotel.  Takut ditawar…Hehehehe.


MATHUSAN HOTEL

Bungkus makanan di Srilanka


Monday, November 23, 2015

(Pawai) Orang Meninggal

Beberapa tahun lalu gw melayat orang tua teman yang bersuku batak. Gw pergi sama teman gw yang bukan suku batak (sebut saja A). Sampai di sana si A ini kaget karena pas kami tiba sedang berlangsung sesi ibadah pakai keyboard yang disambungkan dengan speaker gede. Jadi kedengaran sampai ujung jalan. Yang bikin si A kaget lagi, tersedia menu prasmanan di rumah duka, jadi para pelayat dipersilahkan  makan. Si A nyeletuk: “Ini acara kematian apa acara kawinan yol?”. Gw jelasin lah sama si A mengenai budaya orang batak yang meninggal apalagi jika meninggal di usia tua dan punya banyak cucu, di kampung sana pasti potong kerbau. Si A bilang “pantesan orang batak pekerja keras ya yol, meninggal aja ga boleh miskin, kerbau kan mahal.” Haha, kesimpulan yang masuk akal.

Di daerah Puttur Srilanka (etnis Tamil), gw menemukan hal unik terkait peristiwa kematian. Pernah ada 1 jemaat gereja yang meninggal. Saat hari pemakaman, tibalah jenazah ini di gereja sebelum dibawa ke pemakaman. Peti diletakkan di tengah gereja dan dibuka. Yang gw bingung, semua orang berdiri mengelilingi peti tersebut termasuk keluarga. Ga ada 1 pun orang yang duduk, padahal gw udah siap ngambil posisi buat duduk. Gw pikir akan ada ibadah pelepasan atau ibadah tutup peti. Dalam posisi masih berdiri, tiba-tiba pendeta mulai berdoa. Selesai berdoa peti ditutup kembali. Udah beres. Gitu aja. Ga sampe 10 menit. Bubar jalan. Jenazah langsung dibawa ke pemakaman. Gw tanya lah sama pendeta kenapa cuman sebentar, ga ada ibadah. Ternyata memang bukan tradisi jenazah dibawa ke gereja. Tetapi ada beberapa orang yang request untuk dibawa ke gereja. Nenek ini sebelum meninggal berpesan untuk dibawa ke gereja saat mau dikubur. Yah mungkin ibadah pelepasan sudah dilakukan di rumah duka. Tapi kalau memang direncanakan dibawa ke gereja dulu sebelum dikubur, logikanya mending sekalian ibadah pelepasan dilakukan di gereja. Jadi ga awkward banget di gereja cuman buka peti-berdoa-tutup peti-bubar.

Kalau di Indonesia biasanya saat iringan pemakaman, yang di baris depan akan membawah foto orang meninggal saat masih hidup dalam ukuran pigura. Kalau di Srilanka foto diganti dengan spanduk. Jadi foto orang yang meninggal di cetak di spanduk (ukuran sekitar 2x1 m). Selain itu sepanjang jalan keluar dari rumah duka sampai ke pemakaman iring-iringan mobil jenazah disertai dengan pukulan semacam bedug dan petasan yang dinyalakan tanpa henti hingga tiba di pemakaman. Bedug ini ga cuman 1 loh, kadang 3, kadang 5. Bener-bener mirip malam takbiran. Untuk beberapa orang (yang biasanya tajir), petasan dan bedug ini dimainkan bukan hanya saat jalan ke pemakaman, tapi dari pagi. Jadi misalnya dikubur hari rabu, dari rabu pagi petasan dan bedug dimainkan di rumah duka dan terus nyambung sampai perjalanan ke pemakaman.

Kalau yang meninggal orang Hindu, mobil jenazah dihias meriah kaya mobil pawai. Pertama kali gw liat iring-iringan ini, gw heboh banget nyamperin ke jalan raya sambil foto-foto. Seru liat atraksi bedug dan petasan yg lewat, apalagi ada mobil hias yang lucu dan warna-warni. Tapi kok di barisan belakang pemukul bedug beberapa orang menangis (Iringan jenazah semua jalan kaki, ga ada yang naik mobil). Pas gw balik ke kamar dan gw tanya sama orang lokal, ternyata itu iringan jenazah, astagadotcommmm, gilak ga enak banget tadi foto-foto antusias saat orang lain berduka. Kirain ada pawai. Maaffff. Untung aja tadi gw ga kecentilan pakai dadah-dadah….bisa-bisa gw dideportasi.


Mobil jenazah Hindu-Tamil

Spanduk orang meninggal 


Tamil Black Day

Demo yang paling popular di Indonesia adalah demo buruh. Sewaktu gw masih kerja di pabrik, tiap kali ada demo buruh gw senang banget soalnya pabrik diliburkan (terkadang gw berharap semoga demonya seminggu). Para petinggi asosiasi buruh mewajibkan semua buruh di Indonesia ikut demo makanya tidak boleh ada kegiatan di pabrik. Yaelah pak, emang yang kerja di pabrik isinya buruh aja. Selain buruh, beberapa orang juga suka demo untuk mengutarakan pendapat mereka. Tetapi biasanya demo ini ga ganggu aktivitas orang lain. Palingan hanya bikin macet lalu lintas.

Di daerah etnis Tamil Srilanka , tanggal 13 November 2015 ada yang namanya Black Day. Sejumlah orang demo menuntut pembebasan para pria (mayoritas anak muda) yang ditangkap saat terjadi perang Tamil. Srilanka memang pernah mengalami perang etnis yang cukup besar dan berlangsung puluhan tahun. Perang telah usai 2009 kemarin. Walaupun perang telah usai, masi banyak warga yang di penjara. Hal inilah yang diperjuangkan para pendemo di Black Day.

Para etnis Tamil ini tidak hanya berdemo, namun mereka menghentikan seluruh kegiatan. Benar-benar berhenti total..tal..tal. Tidak ada transportasi umum yang beroperasi. Sarana umum dalam bidang ekonomi juga tutup total seharian. Bank, pasar, toko-toko, sampai rumah makan kecil juga tutup. Hanya rumah sakit yang masih buka. Itupun sepi pasien karena tidak ada akses transportasi. Salutttttt,,,mereka kompak banget. Tanpa ada kordinasi. Hanya di infokan di media pada H-1 bahwa akan ada Black Day.

Yah perang yang berlangsung selama puluhan tahun memang sudah berakhir, kesepakatan damai sudah dibuat. Namun cerita pahit sisa perang masih ada. Dua orang penghuni jompo di panti jompo tempat gw tinggal menjadi gila karena anaknya meninggal saat perang. Beberapa warga tercerai berai karena beberapa orang memilih ke luar negeri meninggalkan Srilanka. Sarana dan prasarana yang rusak. Hilangnya masa depan generasi muda yang ditangkap oleh pihak musuh dan di penjara bertahun-tahun. Semoga Black Day kemarin memberikan dampak positif. Semoga para tahanan perang bisa segera dibebaskan karena tugas mereka menanti untuk membangun bangsa.

Older Man Declare War, But It Is The Youth That Must Fight And Die (Herbert Hoover)

Wednesday, November 18, 2015

and I Think to My Self, What a Wonderful World

Selama di Srilanka, gw tinggal di panti jompo. Di postingan sebelumnya gw pernah bercerita mengenai 2 opa penghuni jompo yang mengalami gangguan jiwa sejak lahir. Kali ini gw akan bercerita mengenai 6 oma penghuni jompo yang mengalami gangguan jiwa. Selanjutnya gangguan jiwa akan disingkat jadi GJ (gangguan jiwa). Ke-6 oma ini mengalami GJ tidak dari lahir, tapi di tengah perjalanan hidup mereka. Mengapa para oma GJ ini ditempatkan dipanti jompo, bukannya di Rumah Sakit Jiwa? Beberapa oma tersebut pernah merasakan kehidupan Rumah Sakit Jiwa, setelah kesehatan mental mereka dianggap membaik dan tidak membahayakan orang lain, mereka di lepas ke lingkungan normal dengan tetap di bawah pemeriksaan rutin dari dokter. Selain itu kuota Rumah Sakit Jiwa juga terbatas (wew tenyata banyak orang stress), jadi walaupun ada yang belum terlalu tua (masih sekitar 50 tahunan, mereka di bawa ke panti jompo (untuk yang sudah tidak ada keluarga lagi).

Ada oma GJ yang bernama Oma Theva. Oma bertubuh gemuk ini mengalami gangguan jiwa karena KDRT oleh suaminya. Gw suka ngajak ngobrol Oma Theva, kadang dia balas obrolan gw, kadang hanya dibalas senyuman aja. Kalau gw elus tangannya, dia pasti langsung senyum. Oma ini suka dimarahin pengasuh soalnya kadar gula darah dan kolesterolnya tinggi. Kalau lagi diomelin supaya jangan makan banyak, dia cuman nunduk sambil garuk kepala, persis seperti anak kecil. Pernah gw liat Oma Theva lagi jalan ngegandeng Oma Baby (Oma baby memang susah jalan dengan baik). Aihhh, benar-benar pemandangan yang menyentuh hati.

Ada juga yang namanya Oma Meri dan Oma Baby. Kedua oma ini mengalami gangguan jiwa karena anak mereka jadi korban perang. Srilanka memang pernah mengalami perang antar etnis yang berlangsung selama puluhan tahun dan baru selesai di tahun 2009. Oma Meri sewaktu muda terkenal cantik. Sekarang Oma Meri selalu menundukkan kepala dan jarang berbicara, namun guratan cantiknya masih terlihat. Oma Baby badannya sangat kurus karena susah makan. Beberapa kali Oma Baby diomelin pengasuh karena ketahuan mindahin makanan dari piringnya ke piring Oma Theva (Oma Theva memang doyan makan jadi dia senang-senang aja kalau dikasi makanan tambahan). Karena ketahuan suka jadi 'vacuum cleaner' makanan oma lain, sekarang kalau lagi jam makan biasanya Oma Theva diungsikan dari oma lain. Mau ga mau mereka harus ngabisin makanan mereka sendiri.

Ada Oma Damayanti dan Oma Jeya. Mereka ini transferan dari Rumah Sakit Jiwa karena dianggap sudah sembuh. Karena mereka sudah tidak punya keluarga lagi, maka pihak Rumah Sakit Jiwa mengirim ke panti jompo. Iuran bulanan mereka di panti jompo ditanggung oleh pemerintah karena dianggap warga yang tidak bisa produktif bekerja dan tidak memiliki keluarga lagi. Mereka ini masing-masing memiliki mentor yang berasal dari pegawai pemerintah. Terkadang mentor mereka datang mengunjungi. Bahkan saat Oma Damayanti berulang tahun, sang mentor datang dan membawa permen. Bener-bener program pemerintah yang te-o-pe. Kalau gw lagi lewat di depan Oma Damayanti, dia selalu teriak manggil nama gw dan tepuk tangan, macam fans fanatik yang ketemu artis idolanya. Awalnya sih gw keki banget digituin, apalagi kalau lagi ada tamu dari luar, tapi lama-lama terbiasa #yah mau gimana lagiiiiii hahaha#.

Yang terakhir namanya Oma Pusparhani. Oma ini mengalami cacat saat lahir sehingga tangan kanan dan kaki kanannya bengkok. Lambat laun Oma Puspa menjadi stress karena merasa dirinya cacat dan tidak berharga.

Di Indonesia, kalau di jalan ketemu sama orang yang mengalami GJ, gw bakal menjauh atau lari. Awal bertemu dengan oma GJ di panti jompo ini gw juga takut banget, ga berani dekat-dekat. Senyum aja gw ga berani. Selama ini gw pikir pasien GJ suka ngamuk, teriak-teriak, dan menakutkan.Ternyata gw salah, ga selamanya pasien GJ suka ngamuk dan beringas. Malah oma-oma GJ ini cenderung pendiam dengan ekspresi muka yang kosong dan tertekan. Yah seperti layaknya manusia normal, kalau diperlakukan dengan baik maka akan memberikan respon yang baik pula.

Walaupun mengalami gangguan jiwa, mereka sangat memberkati gw. Mereka ini sangat penyayang. Para Oma yang mengalami gangguan jiwa memilki pengasuh yang mengurus keperluan mereka, namanya Ms.Shanti. Dia sehari-hari tinggal di panti jompo. Jika Ms.Shanti lagi off dan pulang ke rumahnya, mereka pasti nyariin Ms.Shanti seharian. Keliling panti jompo untuk nanya ke orang-orang kemana Ms.Shanti dengan mata berkaca-kaca. Aduh kalau ingat perilaku mereka yang penyayang, lumer banget rasanya. Yah mungkin kejiwaan mereka memang terganggu, namun mereka masih memiliki hati yang tulus untuk menunjukkan kasih sayang mereka.

Jadi ingat perkataan salah satu penghuni panti, dia bilang orang yang mengalami gangguan jiwa itu lupa menghitung berkat Tuhan yang telah mereka terima. Mereka hanya terfokus terhadap masalah yang mereka hadapi saja. Mereka lupa kalau selalu ada jalan keluar untuk setiap masalah dan selalu ada Tuhan yang menjaga anakNya. Bener juga sih, setiap orang pasti punya permasalahan masing-masing. Yah tapi masalah tersebut ga bisa menggantikan berkat dari Tuhan yang selama ini kita terima dan pastinya setiap permasalahan yang kita hadapi bikin kita makin kuat dalam menjalani hidup.

Seperti lirik lagu “…….ketika ku percaya, mukjizat itu nyata…”. Mukjizat itu nyata di dalam hidup orang yang berserah padaNya. Jangan pernah lelah meminta pertolongan Tuhan dan menanti mukjizatNya. Seperti mukjizat yang dialami mahasiswi farmasi yang di 2 tahun pertama kuliah IP nya selalu dibawah 3 (bahkan pernah mendapat IP 2,1), yang mengira akan menjadi mahasiswa Drop Out dan memilki masa depan suram. Ternyata mahasiswi itu lulus tepat waktu dengan IP yang jauh lebih baik dari perkiraan (sebut nama saja mahasiswi itu Yolanda Pohan, nama sebenarnya).

Sebelum terlanjur mengalami gangguan jiwa (pait…pait… pait….), sadarilah bahwa hidup tidak serumit ilmu kalkulus. Dibalik foto-foto bahagia (dan perut rata) ka Dian Sastro yang sering dia post di media social, pastilah dia juga punya masalah pribadi (yang tentunya tidak dia umbar). Mari menikmati setiap hal kecil dalam kehidupan sebagai hal yang indah untuk disyukuri, seperti yang diajarin Eyang Louis Amstrong  “…trees of green, red roses too, I see them bloom for me and you….I think to my self, what a wonderful world…”
Yes what a wonderful world, isn’t it?


Oma BAby, Oma Theva, Neng Yolan

Oma Meri
Oma Damayanti, Oma Pusparhani

Sunday, November 15, 2015

Peringatan Hari Lansia di Panti Jompo Methodist Srilanka

Di Srilanka, setiap tanggal 1 Oktober diperingati sebagai hari Lansia. Ada juga toh hari lansia (di Indonesia ternyata hari lansia diperingati setiap tanggal 29 Mei #baru tau#). Nah panti jompo tempat gw tinggal di Srilanka juga ikut merayakan hari lansia ini. Karena panti jompo ini dibangun oleh yayasan Kristen (walaupun ga semua penghuni beragama Kristen), maka perayaan dibarengi dengan Ibadah yang dilakukan di gereja (panti jompo dan gereja masih satu komplek pagar). Perayaan hari lansia di panti jompo ini tidak dilakukan tanggal 1 Oktober karena 1 Oktober bertepatan dengan hari minggu sehingga perayaan diundur ke tanggal 29 Oktober. Jauh banget ya mundurnya sampai 28 hari, yah ga papa deh, toh masi sama-sama di bulan Oktober juga..hehehe.

Pada hari H, para jompo berkumupul di gereja. Untuk jompo yang sakit atau yang udah susah jalan ga bisa ikutan acara ini. Yah beberapa jompo memang ada yang sudah tidak sanggup lagi jalan jauh ataupun duduk terlalu lama. Pihak panti jompo juga mengundang sekolah yang terletak persis di depan panti (sekolah dari yayasan Hindu). Beberapa guru dan para siswa terlihat datang. Pihak panti jompo memang  meminta pihak sekolah agar para siswa bisa mengisi acara di acara hari lansia ini.

Saat ibadah dimulai, para jompo dan undangan yang non-Kristen hanya duduk diam dan mendengarkan. Setelah ibadah singkat selesai maka masuk sesi acara hiburan. Para jompo dihibur oleh penampilan para siswa sekolah. Ada yang baca puisi, menyanyi, dan juga menari. Ada 3 grup penari. 2 grup perempuan dan 1 grup laki-laki. Grup penari perempuan yang pertama menarikan tarian daerah Srilanka. Seorang guru melantunkan lirik dan para murid perempuan menari. Guru ini seperti sinden, bedanya si guru melantukan lirik tanpa alat musik. Grup tari perempuan yang kedua dan 1 grup tari laki-laki menarikan lagu yang lagi hits di Srilanka dengan menggunakan kaset. Lucunya, saat grup tari perempuan sedang menari, tiba-tiba mati lampu jadi musik dari kaset berhenti. Satu orang dari peserta grup tari tersebut menangis. Saat kejadian itu, gw spontan ketawa ngakak (dan kencang). Tetapi cuman gw aja yang ketawa, dan semua orang ngeliatin gw. Langsung deh gw pura-pura sibuk main hp.

Melihat grup tari ini gw langsung ingat jaman gw kecil pas ada panggung 17 Agustusan yang ada penampilan anak-anak menari. Gw teringat dandanan menor anak-anak jaman gw kecil. Anak-anak grup tari di hari lansia ini juga didandanin menor abeeees tanpa ampun sama gurunya. Bedak tebal dan blush on merah terang nempel di pipi mereka. Kayanya kalau mereka bersin, ketebalan bedak jadi berkurang. Belum lagi lipstik merah tua (macam punya Taylor Swift) ikut ambil bagian di bibir mereka. Benar-benar kontras dengan kulit mereka yang gelap. Disempurnakan dengan pakaian yang berwarna mentereng dengan hiasan bunga di kepalanya. Belum mulai nari aja gw sudah terhibur banget sama dandanan mereka.

Setelah penampilan dari para siswa, saatnya penghuni panti jompo beraksi. Beberapa opa ada yang menyanyi dan juga baca puisi. Seharusnya ada penampilan tarian dari Opa Mohan. Tetapi berhubung H-1 Opa Mohan digigit anjing, terpaksa atraksi tariannya batal karena Opa Mohan masih kesakitan. Setelah penampilan beres, dilakukan pembagian souvenir dari panti jompo. Para Opa mendapat gelas sedangkan para Oma mendapat daster. Horeeeee.

Setelah acara selesai, saatnya snack time. Semua orang mendapat bungkusan kue yang terdiri dari pastel (teteuup isinya kari), sepotong kue bolu keras, 5 keping biscuit regal, dan dinikmati bersama segelas teh susu (teh susu apa susu teh ya? Pokoknya teh manis yang dikasih susu). Ini benar-benar acara yang sangat sederhana tetapi gw sangat menikmati acara ini.

Walaupun pihak yayasan pusing mengatur anggaran yang pas-pasan, mereka berusaha tetap mengadakan acara hari lansia ini. Gw yang ikutan ngebungkus kue sebelum acara dimulai harus mutar otak agar kue yang dibeli cukup untuk semua tamu. Teman gw juga mendadak jadi pintar karena harus berpikir keras membeli konsumsi seharga uang yang diberikan pihak yayasan. Dengan segala hambatan keuangan pun pihak yayasan berusaha memberikan suvenir untuk para lansia. Yah bagi para lansia di panti jompo yang selama ini merasa kesepian dan terabaikan oleh keluarga, acara hari lansia memberikan hiburan tersendiri. Souvenir yang diberikan pastinya juga memberikan arti yang mendalam bagi mereka. Setidaknya membuat mereka merasa dicintai dan diperhatikan.

Semoga di hari lansia, para lansia bisa merasakan kasih sayang dan cinta dari orang-orang di sekitar mereka..tetaplah tersenyum dear lansia.

Penampilan grup tari

Sebagian lansia dan undangan

Pembagian suvenir

Penampilan menyanyi dan baca puisi dari lansia


Bungkus snack dan suvenir

Baca puisi dan bernyanyi


We are His masterpieces, aren't we?

Di Indonesia, gw jarang berinteraksi dengan kaum lansia. Gw juga ga pernah berinteraksi dengan kaum yang mengalami gangguan mental. Tetapi di Srilanka gw berinteraksi dengan 3 jenis kaum: kaum lansia, kaum yang mengalami gangguan mental, dan kaum lansia yang mengalami gangguan  mental. Gimana rasanya? G4d0-g4d0

Di panti jompo tempat gw tinggal, ada 8 jompo mengalami gangguan jiwa (2 opa dan 6 oma). 2 opa ini mengalami gangguan jiwa sejak lahir. 6 oma mengalami gangguan jiwa di tengah-tengah perjalanan hidupnya. Selanjutnya gangguan jiwa akan gw singkat jadi GJ (gangguan jiwa). Kali ini gw akan membahas jompo yang mengalami gangguan jiwa sejak lahir.

Untuk 2 opa yang  GJ sejak lahir, mereka bertingkah seperti anak kecil. Ada 1 opa suka ngikutin apa yang dikerjakan orang lain. Namanya Opa Mohan. Ada orang ngangkut kayu, dia ikutan. Ada orang berkebun, dia ikutan. Opa ini selalu tersenyum nyengir kalau ketemu gw. Ademmmmm banget senyumnya, terasa tulus. Cuman pernah sekali Opa Mohan ga senyum sama gw, waktu itu dia abis digigit anjing, jadi buru-buru mau ke dokter. Hiks kasihan. Walaupun mengalami gangguan jiwa, Opa Mohan sangat baik, tidak pernah mengganggu. Setiap hari dia membantu di dapur panti jompo seperti motong sayur, memarut kelapa dll. Walaupun ga lama, kalau bosan maka opa akan pergi, beberapa menit kemudian datang lagi, bantuin lagi, terus pergi lagi. Kalau ada jompo lain yang panggil buat minta bantuan, dia langsung datang menolong, benar-benar menolong dengan tulus hati. Selesai menolong pasti dia langsung tersenyum. Pokoknya Opa Mohan seperti anak kecil yang ga bisa diam dan penuh rasa ingin tahu.

Opa Mohan selalu pakai sarung dan telanjang dada. Tetapi kalau ke gereja selalu pakai baju (tetap bawahannya sarung). Kalau ibadah selesai, baru selangkah keluar pintu gereja bajunya langsung di buka. Opa Mohan main kecrekan kecil saat ibadah di gereja. Di gereja kami memang tidak ada alat musik. Jadi kecrekan Opa Mohan bikin suasana gereja lebih meriah. Opa Mohan juga selalu menyiapkan buku lagu saat ibadah minggu. Kalau pendeta lagi khotbah, dia suka maju ke depan bawa minuman. Jemaat sudah terbiasa dengan hal tersebut. Memang tingkahnya memecah konsentrasi, namun itu menunjukkan dia orang yang penuh belas kasih. Setiap ibadah selesai, gereja menyediakan roti yang dibagikan ke jemaat. Opa Mohan biasanya langsung mempersiapkan roti dan membagikan ke jemaat. Saudara Opa Mohan banyak yang tinggal di luar negeri, makanya Opa Mohan dititipkan di panti jompo.

Opa lain yang mengalami GJ namanya Opa Jehan. Opa ini ga bisa berinteraksi dengan baik. Dia seperti anak kecil yang punya dunia sendiri. Setiap hari Opa Jehan suka teriak “auuuuuu”. Kalau lagi jalan dia suka ngomong sendiri. Kadang dia suka nyamperin orang dan ngomong apapun yang ada di pikirannya, misalnya ngomongin sinetron yang baru ditonton atau ngomongin genteng yang dia liat bocor. Benar-benar seperti anak kecil yang suka berbicara banyak hal. Pernah juga Opa Jehan keliling panti jompo hanya untuk pamer rambut barunya saat baru pulang dari salon.

Tingkah dari Opa Jehan yang paling menyentuh hati gw adalah waktu dia berbicara sama anjing. Anjing liar ini tinggal dipanti jompo. Suatu waktu anjing ini diserempet motor yang bikin anjing ini terluka parah dan suka nangis kesakitan tiap hari (gw baru tau anjing bisa juga nangis sampai keluar air mata). Saat anjing ini melolong kesakitan, Opa Jehan selalu nyamperin anjing ini dan ngajak ngobrol, lama banget, sekitar 15 menit ngomong sama anjing. Gatau deh dia ngomong apa sama si anjing apa karena gw hanya memperhatikan dari jauh. Sewaktu gw lewat Opa Jehan bilang ke gw kalo anjing ini kesakitan dan harus ditolong karena bisa mati. Aduhhhh,,,,leleh rasanya hati ini. Sama seperti Opa Mohan, saudara-saudara Opa Jehan juga banyak yang sukses dan tinggal di luar negeri, jadi Opa Jehan di titipkan di panti jompo.

Gw sempat berpikir, kenapa yah Tuhan tega banget menciptakan manusia yang cacat jiwa dari lahir. Kan kasian orang tersebut menjadi olok-olok dan menjadi beban keluarga. Ternyata gw salah. Mereka itu bukan beban, tetapi berkat. Misalnya Opa Mohan, yang selalu tersenyum lebar kalau bertemu. Apalagi kebaikannya yang suka membantu orang. Selain itu tingkah lakunya yang kekanakan kadang menghibur orang-orang di sekitarnya yang mungkin lagi stress atau suntuk. Di saat orang lain memiliki dendam, benci, dan amarah, Opa Mohan dan Opa jehan menyodorkan hatinya yang tulus. Melalui mereka juga Tuhan membentuk hati anggota keluarga mereka untuk selalu peduli antar keluarga walaupun cacat. Terbukti walaupun jauh di luar negeri, anggota keluarga mereka selalu menyempatkan menjenguk opa-opa yang mengalami gangguan jiwa ini. Keluarga tetaplah keluarga.

Tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Semuanya tergantung dari cara kita memandang. Dalam segala keterbatasannya, mereka bisa melayani Tuhan di gereja walaupun hanya hal sepele. Tetapi Tuhan memandang hati kan? Terlahir dengan kondisi yang tidak normal, kedua opa ini bener-bener memberkati gw, dan gw yakin memberkati orang lain juga. Apakah gw (yang normal ini) juga sudah jadi berkat buat orang lain? #introspeksi#

Opa Mohan