Saturday, February 27, 2016

Pengalaman Seminar Alkitab di Negeri Kari

Beberapa waktu yang lalu gw menghadiri kegiatan seminar yang diadakan lembaga Kristen di Silanka. Seminar yang diadakan berjudul A Call to Biblical Leadership. Sejujurnya waktu diajak ikut training ini gw ga antusias. Gw sudah 2x ikut training soal leadership di kantor, jadi udah ada bayangan materi yang akan disampaikan (palingan ada tambahan tokoh alkitab yang dijadikan contoh leadership). Ditambah lagi training di Srilanka pastinya menggunakan bahasa inggris, tambah mualeees deh gw. Gw pun datang hanya dengan motivasi “penasaran seperti apa training di negeri orang” (boong deng, sebenarnya emang gw ga punya alasan untuk menolak semua kegiatan yang diberikan ke gw, xoxoxo).


Lokasi seminar ada di pusat kota, sekitar 1 jam dari tempat gw tinggal. Seminar ini dihadiri dari semua denominasi gereja Kristen di distrik ini. Dari gereja tempat biasa gw beribadah di Srilanka, mengutus 4 orang termasuk gw. Peserta yang datang sekitar 200 orang. Lembaga yang mengadakan seminar  bernama Back to Bible, nama yang sederhana namun penuh makna. Di undangan tertulis seminar diadakan pukul 8.30 – 15.30 namun kenyataannya pukul 9.25 acara baru dimulai. Acara diawali dengan ibadah sekitar 20 menit.

Kepagian coyyy, terlalu rajin

Ibadah sebelum seminar

Lokasi seminar

Bahasa resmi di Srilanka ada 3, yaitu Inggris, Tamil, dan Sinhala. Di daerah tempat gw tinggal mayoritas menggunakan bahasa Tamil. Pembicara training tidak fasih berbicara Tamil, sehingga disediakan penerjemah (pembicara menggunakan bahasa Inggris). Memang di daerah pedesaan seperti ini tidak semua orang lancar berbahasa Inggris, beda dengan di Ibukota dan kota besar lainnya di Srilanka yang fasih berbahasa Inggris. Lucunya, intonasi sang penerjemah lebih tinggi dan bahasa tubuh penerjemah lebih bersemangat daripada pembicara utama.

Pembicara (kanan), penerjemah (kiri)





Seminar dibagi dalam 3 sesi. 9.45 – 11.15 yang kemudian dijeda break, dilanjutkan 11.40 -  12.45 yang kemudian dijeda makan siang kemudian 13.30 – 15.00 dan setengah jam kemudian diisi ibadah penutup serta kata sambutan. Ada 2 hal yang menarik di seminar ini.

Pertama.
Panitia menjamu peserta dengan (sangat) baik. Break pertama peserta diberi snack minuman soda dan kue mirip risol. Diakhir seminar, saat mau pulang (15.30) antrian pintu keluar sangat panjang dan lama. Ternyata panitia kembali membagikan minuman soda dan kue bolu. Baik banget deh ah mba dan mas panitianya.
Gw suka sama budaya orang sini, mereka menyantap snack dan makan siang bukan di dalam ruangan seminar, namun di luar ruangan yang diberi kursi. Jika sudah selesai makan mereka akan langsung pergi masuk ke dalam. Ga ada yang lanjut ngobrol-ngobrol di kursi luar karena mereka tahu ada peserta lain yang menunggu kursi supaya mereka bisa makan. Jadi selesai makan langsung angkat kaki kembali ke ruangan. Benar-benar tertib. Kalau di Indonesia, biasanya sehabis makan beberapa orang akan ngobrol, merokok atau ngaso di luar.

Tempat snack time dan makan siang



Betewe, di Srilanka juarannnnnng warga yang merokok. Selama 6 bulan gw tinggal di Srilanka, kurang dari 10 orang yang gw pergoki merokok. Tidak pernah sekalipun gw mendapati ada orang yang merokok di bus dan tempat umum. Jadi asik banget saat di tempat umum tidak terganggu asap rokok. Ada 2 asumsi gw kenapa sedikit warga Srilanka yang merokok, pertama mungkin karena harga rokok yang cukup mahal yaitu 5 ribu sebatang. Asumsi kedua gw adalah di sini teh lebih populer daripada kopi, lebih banyak warga yang minum teh daripada kopi. Biasanya rokok identik dengan kopi. Karena tidak banyak yang minum kopi, jadi sedikit pula yang merokok (mungkinnnn).

Kedua.
Ini acara judulnya seminar (training), namun gw ngerasa kaya dengerin orang khotbah. Tidak ada modul dan slide show, padahal di atas podium layar infocus sudah dalam keadaan “On” namun tidak ada satupun slide. Lagu saat ibadah pun tidak dimunculkan di layar. Lah kalau gitu ngapain coba dipasang layar infocus. Total 4 jam gw mendengarkan orang ngomong (seminar ini hanya di isi oleh 1 pembicara) . B.O.S.A.N. banget. Gw pikir pemaparan hanya melalui audio dan tanpa visual bukanlah hal yang efektif. Seminar tanpa modul/slide show ga akan bisa maksimal, seminar pun hanya dilakukan 1 arah. Harusnya panitia bisa mempersiapkan materi dengan baik. Bahan yang dibawakan oleh pembicara pun kurang tajam dan detail. Menurut gw bobot materi seminar ini tidak sebanding dengan uang yang dikeluarkan oleh panitia untuk menyelenggarakan acara ini.

Diakhir acara, masing-masing peserta diberikan 2 buku yang agak tebal mengenai pelayanan. Wuih,,, niat bener nih panitianya. Padahal seminar ini gratis tis tis. Namun karena bukunya berbahasa Tamil, gw berikan buku tersebut ke teman gw yang orang lokal sini. Lucunya, name tag yang diberikan panitia saat daftar ulang di pagi hari, diminta untuk dikembalikan saat acara selesai. Yaelah, kalau gitu ngapain coba dikasi name tag, buang-buang kertas aja. Name tag nya juga ga ada fungsinya sepanjang acara.

Terlepas dari semua keluhan gw yang ga penting, gw mengapresiasi kegiatan positif ini. Salut untuk lembaga Back to Bible yang memiliki kerinduan untuk membekali jemaat gereja dengan bekal rohani untuk bertumbuh. Mereka bisa mengumpulkan semua denominasi gereja di daerah sangat jauh (10 jam dari ibu kota Kolombo) tentunya bukan hal yang mudah, murah, dan gampang. Salut juga untuk snack dan makan siangnya yang oke punya. Salut juga untuk buku yang dibagikan. Pastinya acara ini tidak berakhir sia-sia. Semoga kegiatan ini bisa dilakukan di daerah lain di Srilanka dengan konsep yang lebih baik.

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16)

Leadership is not a tittle, it is a behavior, live it –Quote-

A leader is one who sees more than others see, who sees farther than other see, and who sees before others do (Leroy Eims)







Mereka Bukan Kristen, Mereka ke Gereja

Selama tinggal di Srilanka, gw beribadah di Gereja Kristen Methodist St Lukas. Selama 6 bulan gw tinggal di sini, gw tidak menemukan perbedaan berarti dengan gereja Kristen di Indonesia, mungkin hanya penamaan gereja yang menggunakan kata Santo/Santa, hal yang tidak lazim di gunakan gereja Kristen di Indonesia. Komuni di gereja ini dilakukan setiap minggu pertama. Saat komuni berlangsung, gw perhatikan beberapa jemaat tidak ikut maju ke depan altar untuk menerima komuni, dan ini terus terjadi di setiap komuni. Kalau cuman 1 atau 2 jemaat sih mungkin gw ga akan kepo, nah ini ada sekitar 8 jemaat (dewasa) yang  tidak pernah ikut komuni. Mereka hanya duduk di kursi sampai ibadah komuni selesai.

Awalnya gw pikir mungkin jemaat tersebut belum mengikuti katekisasi. Tapi aneh juga karena usia mereka sudah tua, rata-rata penghuni panti jompo (gereja  dan panti jompo berada dalam naungan Methodist dan berada dalam 1 kompleks). Kok telat banget sudah tua namun belum katekisasi, padahal biasanya jemaat mengambil kelas katekisasi dan menerima komuni sebelum umur 20 tahun. Kenapa pula pendeta tidak ada inisitif untuk mengajak mereka belajar katekisasi.

Akhirnya gw mendapatkan jawabannya. Ternyata mereka itu adalah Hindu (mayoritas warga di daerah tempat gw tinggal adalah Hindu). Ada juga 1 jemaat yang Kristen namun belum dikatekisasi karena kedua orangtuanya adalah Hindu sehingga tidak ada yang membimbing (dia Kristen karena sering dibawa neneknya yang Kristen ke gereja) dan merasa belum siap untuk katekisasi karena masi bimbang (padahal umurnya sudah 60 tahun lebih). Memang semua keluarganya Hindu, jadi dia terkadang masi ikut beberapa kegiatan ke-Hindu-an.

Ah ga ngerti deh gw sama situasi ini. Masalahnya, beberapa warga yang ternyata Hindu ini rajin banget ke gereja dan memberikan persembahan. Mereka tidak hanya rajin datang saat ibadah minggu, ibadah tahun baru dan ibadah awal bulan pun mereka datang (setiap tanggal 1 diadakan ibadah pukul 6.30 pagi). Malah salah satu dari mereka adalah seksi repot di gereja. Dia yang mempersiapkan mic buat pendeta sebelum ibadah di mulai. Dia juga yang repot nyiapin buku lagu. Dia juga yang repot menyiapkan roti dan teh yang dibagikan kepada jemaat di akhir ibadah.

Setelah gw korek-korek latar belakang non-kristen ini rajin gereja, gw mendapatkan fakta yang menarik. Seksi repot yang gw sebutkan di atas adalah seorang opa penghuni panti jompo, namanya Opa Mohan. Opa Mohan memiliki IQ yang rendah sehingga hanya bisa sekolah sampai kelas 5 SD (opa berasal dari keluarga menengah ke atas). Opa Mohan sudah 8 tahun tinggal di panti jompo karena semua saudaranya banyak yang merantau ke luar negeri. Opa Mohan suka membantu para pekerja di panti, mulai dari pekerjaan dapur umum, mengurus kebun, sampai dengan memotong kayu bakar. Pola pikirnya memang seperti anak kecil yang suka kepo sama kerjaan orang lain. Di gereja, Opa Mohan dipercaya memeriksa mic dan persiapan lain yang akan dipakai untuk ibadah, menyimpan dan menyiapkan buku lagu, menyiapkan roti dan teh yang dibagikan di akhir ibadah. Itu semua murni inisiatifnya, opa tidak pernah disuruh. Jadilah opa merasa menjadi penanggung jawab gereja. Memang terlihat sepele, namun segala sesuatu yang dilakukan dengan ketulusan hati akan memberikan dampak yang besar. Saat opa tidak muncul dan melakukan semua hal yang biasa dia lakukan di gereja, semua orang akan kelimpungan dan merasa ada yang kurang. Hal lucu yang paling gw ingat adalah, suatu minggu opa ga muncul di gereja. Saat ibadah sudah selesai, opa terlihat mendatangi pendeta dengan terburu-buru sambil menyerahkan uang. Ternyata dia memberikan persembahan karena tadi tidak ikutan ibadah. Hmmm.

Ada juga oma penghuni jompo non-kristen yang rajin ikut ibadah setiap minggu, namanya Oma Thevi. Oma ini mengalami gangguan jiwa karena mengalami KDRT oleh suaminya. Sebelumnya di panti ada Oma yang sudah sangat tua (sebut saja Oma A). Oma A seorang Kristen. Oma A rajin beribadah ke gereja dan hampir setiap hari ke gereja untuk berdoa. Karena faktor usia, lambat laun oma A kesulitan berjalan. Oma A meminta Oma Thevi untuk mengantarnya berdoa ke gereja tiap hari dan beribadah di hari minggu. Hal ini sudah menjadi agenda rutin Oma Thevi. Pada bulan Juli 2015 Oma A meninggal dunia. Walaupun sudah tidak ada lagi yang harus diantar ke gereja, namun Oma Thevi tetap datang ke gereja di hari minggu untuk beribadah. Oma Thevi selalu duduk di kursi paling belakang. Walaupun mengalami gangguan jiwa, Oma Thevi tidak pernah mengganggu saat ibadah dan selalu memberikan persembahan.

Untuk para penghuni jompo lainnya yang non-kristen namun rajin ke gereja, menurut analisa pendeta mungkin disebabkan bosannya mereka di panti jompo tanpa kegiatan. Sehari-hari mereka hanya menunggu datangnya matahari terbit dan tenggelam. Jadi mereka datang ke gereja karena senang melihat keramaian dan mendengar suara orang bernyanyi. Pendeta sendiri tidak pernah mengajak penghuni panti ke gereja. Mereka datang atas inisiatif mereka sendiri. Pendeta menyambut dengan tangan terbuka semua orang yang mau datang beribadah. Jika memang nantinya mereka terpanggil untuk mengimani ajaran Kristen, barulah pendeta akan membimbing. Selain penghuni panti jompo, ada juga warga sekitar yang non-kristen datang beribadah ke gereja.

Gw pribadi memiliki opini pribadi atas kondisi ini. Mereka yang non-kristen ini tertarik datang ke gereja selain karena kesepian namun juga melihat ada hal yang baik dari orang kristen yang pergi ke gereja. Walaupun Oma A rajin berdoa dan beribadah ke gereja namun (misalkan) kelakuannya sangat buruk, mungkin Oma Thevi tidak akan mau menemani Oma A ke gereja dan berhenti ke gereja saat Oma A sudah meninggal. Namun di sini Oma Thevi melihat ada hal baik dari Oma A yang rajin ke gereja sehingga Oma Thevi tertarik untuk mengikuti rutinitas Oma A. When people fall for personality, everything else about it becomes beautiful.

Kalau orang yang beragama Kristen memiliki kelakuan yang buruk pasti orang disekitarnya akan mencibir “Ah buat apa ikutan ke gereja, dia yang rajin ke gereja aja namun kelakukaanya sangat buruk.” Memang kepribadian seseorang tidak bisa men-generalisir suatu kelompok tertentu, namun secara langsung memberikan label bagi beberapa orang. Misalnya label bahwa orang Amerika identik dengan seks bebas, alcohol, dan clubbing. Padahal tidak semua warga Amerika seperti itu.

Seorang yang percaya kepada Kristus haruslah menunjukkan bahwa Kristus tinggal di dalam diri mereka. Kita harus menjadi garam yang mengasinkan dan terang yang menerangi, bukan sebaliknya menjadi batu sandungan.

Sehingga oleh imanmu Kristus diam dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih (Efesus 3:17)

Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran (Efesus 5:8-9)

Untuk kasus Opa Mohan, di sini gw beropini bahwa pengurus gereja mengapresiasi semua hal yang dilakukan Opa Mohan sehingga Opa Mohan menemukan tempat di mana dia dihargai, dipercaya, dan diberi apresiasi. Di gereja lah Opa Mohan merasa berguna dan tidak dianggap sebagai orang yang tidak berguna karena memiliki IQ rendah. Pengurus gereja mengapresiasi dan tidak pernah menganggap remeh semua pekerjaan Opa Mohan. Pengurus gereja memandang bahwa semua manusia sama dihadapan Tuhan, sekalipun orang tersebut memilki IQ rendah. Be somebody who makes everybody body feel like a somebody.

Apakah perbuatan kita selama ini menjadi berkat? Atau menjadi batu sandungan? Apakah garam kita masih asin, atau sudah hambar?


Jacob was a liar,
Moses was a stutterer,
Gideon was a coward,
David was an adulterer,
Rahab was a prostitute,
Esther was an orphan,
Balaam’s donkey was a donkey
Yet God uses each one to impact His kingdom. Let God makes us to impa His kingdom –Quote-



Saturday, February 20, 2016

Post Working Syndrome

Belakangan ini banyak pesan whatsapp masuk dari beberapa teman (mantan) kantor gw di Indonesia. Dari yang sekedar ngirim meme, curhat, sharing ilmu, sampai gossip kantor. Ada 1 teman (mantan) kantor nanya “Lo udah 6 bulan di sana, lo ga kangen yol?”. You guys, jangankan 6 bulan, baru empat hari tinggal di Srilanka aja gw udah maha kangen sama (mantan) kantor dan sampai sekarang masih belum bisa move on. Gw reeeendu sama  rutinitas mba-mba kantoran (yang sebelumnya gw anggap sebagai rutinitas maha membosankan).

Awal gw tiba di Srilanka, gw senang banget karena bisa meninggalkan rutinitas kantor. Gw bahagia akhirnya bisa berhenti kerja. Gw memang salah satu korban salah milih jurusan kuliah dan memiliki rencana untuk banting stir dari bidang ilmu yang gw geluti. Namun gw menunggu waktu (dan tabungan) yang tepat. Dalam hati gw tertawa-iblis membayangkan teman-teman di kantor yang lagi hectic sedangkan di sini gw (yang ribuan mil jauhnya) lagi hore-hore. Gw senang bisa “kabur” dari deadline dan kasus yang lagi jadi trending topic di kantor. Gw senang bisa putus hubungan sama beberapa rekan kantor yang hanya dengan ngeliat mukanya dari jarak 10 m bisa bikin gw migraine.

Namun hore-hore itu hanya bertahan sementara. Hari ke-4 di Srilanka gw merasa jadi orang linglung karena tidak ada kesibukan yang berarti. Dua minggu pertama di Srilanka gw menunggu visa ijin untuk tinggal selama setahun. Selama dua minggu tersebut yang gw lakukan hanya jalan-jalan, menikmati peran jadi turis (kere) di negara orang, main, ngobrol, dan melakukan kegiatan hore-hore lainnya.

Perubahan rutinitas yang ekstrem ini belum bisa diterima sama otak gw. Mendadak gw kangen baca email kantor, padahal saat masih kerja inbox di email kantor gw penuh dengan ratusan unread email (yang terkadang sengaja ga gw baca jika subject emailnya ga menarik atau ada tendensi bikin nambah kerjaan). Gw kangen bunyi telepon kantor, padahal saat masih kerja gw males banget denger telepon bunyi karena ganggu konsentrasi dan kadang ujung-ujungnya nambah kerjaan. Sering banget gw sengaja ga angkat telepon kalau lagi rempong, apalagi kalau yang nelepon dari “si tukang bikin migraine” (layar telepon di kantor gw bisa memunculkan nama penelepon). Gw kangen suasana berisik, padahal saat masi kerja gw suka emosi jiwa sama departemen tetangga yang berisik banget, apalagi kalau menjelang closing akhir bulan, aduhaiii berisiknya. Memang ruangan kantor gw tidak ada sekat dinding pemisah. Lupa bawa head set di akhir bulan = kesalahan fatal.

Gw juga kangen lalu lintas yang ramai. Gw yang pulang-pergi kantor menggunakan motor menempuh 2 jam perjalanan, entah mengapa sering jatuh dari motor. Suatu kali gw pernah jatuh dari motor saat perjalanan ke kantor. Gw maksain diri tetap nerusin perjalanan ke kantor karena saat itu ada audit dan ada beberapa dokumen yang harus gw persiapkan. Sampailah gw di kantor dengan kaki nyeri-bengkak dan shock-tremor pasca jatuh di jalan raya yang ramai. Mungkin bos gw bosan dengan tragedi-jatuh-dari-motor yang sering gw alami, jadi beliau hanya komentar “Kenapa sih yol kamu sering banget jatuh dari motor?” Sampai hari ini gw juga masi belum menemukan jawaban atas pertanyaan bos gw itu. Belon lagi kalau lagi musim hujan, duh PR banget deh buat anak geng motor macam gw: macet, kedinginan, dan masuk angin. Saat musim hujan gw akan menambah anggaran bulanan untuk pijat spa.

Gw juga kangen dinas luar kantor, padahal sebelumnya gw mualesss buangettt kalau harus dinas luar kantor, dinas luar kantor = menumpuk kerjaan harian. Apalagi kalau TKP dinasnya melewati area macet atau di pelosok peradaban, yang bikin gw harus berangkat lebih pagi daripada resah gelisah takut terlambat karena terjebak macet di jam padat. Saat masi kerja, gw hampir tiap minggu dinas ke Cikarang (kantor gw di Bintaro), hal yang sangat gw benciiii. Perjalanan yang membosankan dan melelahkan Tangerang-Cikarang-Tangerang. Mati gaya di taksi. Rekor terparah saat gw pulang dinas Cikarang-Tangerang terjebak macet hingga 5,5 jam di jalan. Mau peeeeengsan rasanya. Namun gw sekarang merindukan perjalanan dinas luar kantor, ngobrol sama supir taksi, dengerin penyiar radio sambil menikmati macet, dan memandang bangunan tinggi sambil memperhatikan orang-orang dari kaca taksi (booong deng, biasanya kalau dinas luar kantor gw: masuk taksi-tidur-dibangunin kalau udah sampai).

Sekarang, di Srilanka, hari-hari yang gw lalui, bertolak belakang dengan kehidupan gw di Indonesia. Sangat jauh berbeda bagaikan Bruno Mars dan Andika Kangen Band. Ga ada email yang harus gw cek. Ga ada suara krang-kring telepon. Ga ada suasana berisik yang mengganggu konsentrasi. Ga ada lalu lintas menyebalkan yang harus gw lewati (jarak dari kamar ke tempat gw beraktivitas di Srilanka cuman 100 m, jalan sambil merem juga bisa). Ga ada cerita jatuh dari motor. Ga ada cerita masuk angin karena kehujanan. Ga ada cerita berangkat lebih pagi untuk menghindari macet. Ga ada mati gaya saat perjalanan dinas luar kantor yang jauhnya bikin tua di jalan. Gada deadline menumpuk. Gada rekan kantor yang bikin migraine dan tensi naik. Entah mengapa semua yang tidak gw suka saat gw menjalani rutinitas mba-mba kantoran, mendadak gw rindukan. Mungkin ini yang namanya post working syndrome. Huhuhu…kangen.

Selain rutinitas harian kantor, gw juga reeeendu sama suasana lalalayeyeye bersama tim di kantor. Mulai dari meeting serius-lumayan serius-tidak serius, candaan lucu-kurang lucu-tidak lucu, obrolan penting-kurang penting-tidak penting di jam kerja, bully, perbincangan (yang di dominasi obrolan vulgar) di grup chatting, pesta cemilan saat baru ada yang balik dari mudik atau dinas luar kota, bahkan gesekan (manusiawi) sesama anggota tim. Namun yang paling gw rindukan adalah obrolan jam makan siang sambil cuci mata karyawan kece dari lantai lain. Di saat makan siang inilah teman-teman cowo gw membuktikan kemampuan mata elangnya dalam mencari bibit unggul. Gw ingat sama teman kantor gw (seorang pria muslim) yang saat bulan puasa rela menahan godaan aroma makanan ikutan gabung di kantin demi melihat kecengannya yang beda lantai makan siang di kantin. Dia bilang: “ngeliat muka si doi kecengan bikin kenyang batin.” Cuiiihhhh. Anyway, gw agak kaget dengan memory otak pria yang cenderung lebih spesifik mengingat organ tubuh yang tidak umum untuk dijadikan deskripsi ciri fisik. Saat gw men-cirikan teman perempuan dengan “si Mawar yang rambutnya keriting”, atau “si Melati yang badannya pendek” entah mengapa teman pria gw men-cirikan dengan sudut pandang berbeda “si Mawar yang pantatnya besar”, atau “si Melati yang betisnya kecil”. Rasanya gw ga pernah perhatiin orang sampai ke betis-betisnya. Bahkan teman pria gw ini pernah bilang kalau gw mirip sama artis Fitri Tropica, pas gw tanya apanya yang mirip, dia bilang BIBIR kami mirip, sama-sama tebal. Ampun DiJeee, puluhan tahun gw ngaca, gw ga pernah sadar kalau bibir gw tebal. Dasar mata lelaki!!!

Gw juga kangen hang out pulang kantor: sekedar ngobrol, gossip tak berujung, dan curhat (yang terkadang tanpa solusi) sambil mengeksplor makanan berkalori tinggi. Terkadang, gw juga memilih killing time seorang diri sepulang kerja hanya untuk menikmati malam dan mengasah jiwa melankolis. Saat menulis ini, gw baru sadar kalau ternyata selama ini gw memiliki kehidupan yang bahagia. I don’t have everything that I want but I do have all I need. Bodohnya gw, kenapa selama ini gw pikir aktivitas kantor gw adalah aktivitas membosankan dan penuh dengan masalah. Mungkin selama ini gw hanya terfokus pada sisi negatif aja, padahal saat gw trace back, banyak hal menyenangkan dan bermakna dari semua hal yang pernah gw jalani. Pas banget sama renungan harian yang gw baca pagi ini. Dikatakan, saat kita sedang terpikir akan sisi buruk suatu hal, harus cepat-cepat dialihkan ke sisi baik agar kita bisa menjalani hidup lebih baik dan penuh ucapan syukur.

Mungkin kalau dipraktekan akan seperti ini: Saat gw bete harus ke kantor dengan cuaca hujan deres sehingga kedinginan dan macet, namun gw harus bersyukur karena setidaknya gw sampai kantor ga keringetan dan lepek seperti biasanya. Saat gw bete karena telepon kantor yang sering bunyi, namun gw harus bersyukur karena gw masi dianggap mumpuni untuk membantu permasalahan mereka yang menelepon gw. Saat gw bete harus dinas luar kantor yang jauh, namun gw bersyukur karena  gw bisa menjadi berkat buat supir taksi melalui rejeki dari argo taksi. Lucunya, kalau gw udah lama ga dinas luar kantor, pasti supir taksi langganan gw akan sms “Non, kok udah lama ga manggil taksi bapak, udah jarang dinas luar kantor ya non?” SMS perhatian supir taksi ini seperti oase buat jomblo macam gw yang udah lama ga dapat kiriman SMS perhatian. Naseeeeeb.

Memang gw ga bisa memutar kembali waktu. Yang bisa gw lakukan adalah belajar dari kesalahan, mengembangkan diri, dan berkomitmen akan menjalani setiap harinya dengan penuh makna. Gw ga mau lagi menjalani hari-hari dengan sia-sia dan penuh keluh kesah.  Mungkin rutinitas non-hectic di Srilanka ini suatu saat akan gw rindukan saat gw balik ke Indonesia. Gw memilih untuk bahagia dengan melihat dari sudut pandang yang positif. Anyway, positive thoughts are not enough, there have to be positive feelings and positive actions. Every day may not be good, but there is something good in every day. Bukan berarti gw ga punya masalah. Masalah gw banyak banget, malah sampai bikin gw lupa apa aja masalah yang gw hadapi. Tetapi gw berkomitmen untuk tidak menjadikan masalah yang gw alami membuat gw lupa sama berkat yang gw terima setiap harinya. Sekarang gw ga lagi menyesali kenapa gw salah jurusan. Gw ga lagi menyesali 5 tahun kuliah dengan beban batin yang sangat tiada terkira. Gw ga lagi menyesali pernah terjebak kerja di bidang ilmu yang ga gw suka. Gw ga lagi menyesali pernah disakiti pria brengsek. Banyak hal indah dan bermakna yang gw dapatkan dari ketidaksukaan gw sama jurusan kuliah, pekerjaan gw, dan hal lainnya yang membuat gw terus bergumam “Terimakasih TUHAN.”

You are where God wants to be at this very moment. Every experience is part of His divide plan. Just simply have to trust His will –Quote-

Aku merindukan kalian Departemen System Quality Management (baca: Departemen Lalalayeyeye)







Monday, January 25, 2016

Pongal Day dan Lighting Day

Sebelumnya gw pernah membahas soal kejadian bulan purnama yang tiap bulannya dijadikan hari libur nasional (tangal merah) di Srilanka. Kali ini gw akan bahas hari libur nasional lain di Srilanka yang gw anggap unik. Tanggal 15 Januari di kalender Srilanka berwarna merah. Pas gw tanya orang lokal sini, katanya itu Pongal Day. Setau gw pongal adalah makanan khas Srilanka yang berupa beras (biasanya beras merah) yang dimasak dengan susu (atau air kelapa), gula, kacang, dan buah plum. Awalnya gw ngakak karena gw pikir kok lucu banget ini negara, hari libur nasionalnya untuk merayakan makanan khas mereka. Kalau diterapin di Indonesia seru juga kali ya, bakal banyak banget hari libur nasional. Indonesia gitu loh, punya banyak etnis, jadi melimpah kuliner khas. Hari gado-gado, hari pempek, hari gudeg, hari rendang, hari kerak telor, dll.

Ternyata Pongal Day bukan semata hanya merayakan makanan pongal, namun ada makna di balik perayaan Pongal Day. Pongal Day dirayakan ketika masa menuai, secara tradisi bertujuan berterimakasih kepada matahari yang senantiasa memancarkan sinar sehingga memberikan kehidupan bagi manusia khususnya petani dan para penduduk Srilanka yang makanan utamanya beras. Oleh karena itu, makanan pongal menjadi menu utama Pongal Day karena komposisi pongal mengandung bahan-bahan yang kompleks dan bergizi (terutama beras). Kalau di kalender sih tertulis Tamil Thai Pongal, yang menunjukkan bahwa ini perayaan etnis Tamil. Hasil browsing di internet juga menyatakan sejarah Pongal Day adalah dari etnis Tamil-Hindu. Namun belakangan, Pongal Day digeneralisir untuk semua etnis dan agama di Srilanka sebagai tanda ucapan syukur. Tetapi dari pengamatan yang gw pantau di daerah tempat gw tinggal, hanya Tamil-Hindu yang heboh menyambut Pongal Day, selain dari mereka tidak terlalu heboh merayakan Pongal Day.


Dari H-1 sebelum Pongal Day, terlihat kesibukan keluarga warga Hindu Tamil-Srilanka. Mereka sudah heboh belanja, membersihkan rumah, serta persiapan di kuil. Dari malam hari, sudah banyak petasan berkumandang di langit. Nyanyian pujian juga sudah terdengar dari toa di kuil. Hindu adalah agama mayoritas di daerah ini (Puttur-Utara Srilanka), jadi suara toa di kuil mendominasi. Kalau di Indonesia biasanya suara toa mesjid yang mendominasi. Pada Pongal Day tahun ini, ada donasi yang datang ke panti jompo (gw tinggal di panti jompo) berupa pongal dan beberapa cemilan khas Srilanka. Gw sih ga terlalu doyan pongal, manis banget boooo, dan teksturnya terlalu lembut.

Jam 10 pagi, gw nemenin teman gw sembahyang ke kuil. Di kuil, terlihat beberapa orang melakukan sembahyang. Selain itu pihak kuil juga membagikan pongal kepada warga, bebas siapapun boleh mendapatkan pongal. Selain pongal, pihak kuil juga membagikan buah-buahan dan kue tradisional Srilanka. Ada 3 kuil yang kami datangi, 2 kuil besar dan 1 kuil kecil. Kuil kecil ini ibarat mushola bagi kaum Muslim atau kapel bagi kaum Katolik. Dua kuil besar yang kami kunjungi adalah kuil Dewa yang berbeda.

Beberapa spot bagian dalam kuil

Kuil tampak luar

Kuil kecil

Selama ini, gw lihat kuil Hindu di Indonesia, bentuk bangunannya biasa aja, tidak terlalu mencolok. Namun di Srilanka, kuil-kuil Hindu heboh dan mencolok, didominasi warna emas terang. Selain itu, tampak luar kuil penuh dengan patung-patung, baik patung besar maupun patung kecil. Tembok bagian luar kuil biasanya berwarna merah-putih yang dicat selang-seling secara vertikal. Di dalam kuil pun penuh dengan patung. Petugas di kuil tidak mengenakan baju atasan, hanya menggunakan kain yang dililit sebagai bawahan. Selesai berdoa, mereka biasanya mengusapkan abu putih di dahi mereka (vipoothi). Ciri mencolok dari warga Hindu di sini adalah lilitan benang merah di tangan kanan dan lilitan benang kuning di tangan kiri. Tidak hanya berdoa di kuil, kaum Hindu juga bisa beribadah di rumah. Di setiap rumah, mereka mempunyai gambar Dewa dan meja dupa. Biasanya itu tempat mereka berdoa. Lambang keagamaan Hindu dan meja dupa juga banyak dipasang di sarana umum seperti bank, rumah sakit, dan kantor pemerintah. Padahal sarana umum tersebut tidak berbasis keagamaan. Lucu juga sih, padahal Hindu itu bukan agama mayoritas di Srilanka (agama mayoritas di Srilanka adalah Budha).

Petugas kuil

Motif tembok luar kuil yang kebanyakan merah-putih

Vipoothi di dahi

Lilitan benang merah dan kuning di lengan

Meja dupa di rumah

Sama dengan peraturan di mesjid, memasuki kuil juga harus lepas alas kaki. Sebelum masuk ke kuil, pengunjung harus cuci kaki dahulu. Di dekat kuil disediakan keran air untuk mencuci kaki. Lucunya, alas kaki dilepas tidak persis di depan pintu masuk, jadi batas suci tidak hanya di dalam kuil, namun dimulai dari sekitaran kuil yang berupa tanah, kerikil, dan aspal. Gw ke kuil sekitar jam 11-12 siang. Tengah hari bolong berjalan tanpa alas kaki di sekitaran kuil, rasanya tuh…… gileeeeeee. Berbeda dengan bagian dalam mesjid yang dijaga bersih, bagian dalam kuil tidak terlalu bersih. Yah maklum deh, nyekernya kan dari beberapa meter sebelum masuk kuil, jadi wajar bagian dalam kuil jadi kotor dari kaki pengunjung.

Sehabis menemani teman gw beribadah ke kuil, gw main ke rumahnya. Di rumahnya telah datang kakak dan adiknya yang sudah menikah dan tinggal di luar kota. Mereka sedang sibuk membuat cemilan khas Srilanka yang bernama Vadai. Sekilas mirip gorengan tapi Vadai tidak menggunakan tepung terigu. Vadai dibuat dari biji Daal yang di haluskan yang dicampur kelapa dan rempah rempah lalu digoreng. Endessss. Namun Vadai yang dijual di kios-kios biasanya mengandung terigu dan pengembang agar tampilannya besar dan menarik. Selesai ngobrol dengan bahasa Tamil-English yang amburadul, gw pamit pulang. Gw dibungkusin cemilah segambreng banyaknya, bahkan sampai pisang juga ikut dibungkusin.

Beberapa cemilan khas srilanka

Pongal dan vadai

Add caption



Di malam hari tampak ada beberapa cahaya berwarna di langit. Selama beberapa hari menjelang Pongal Day, ada festival layang-layang. Layang-layang berukuran raksasa dengan bentuk yang unik diterbangkan. Ada yang berbentuk gerobak, manusia, dll. Uniknya, layang-layang ini dilengkapi lampu berwarna-warni sehingga terlihat cantik di malam hari. Festival layang-layang berakhir di Pongal Day.

Festival layang-layang

Selain Pongal Day, ada lagi perayaan di Srilanka yang sangat menarik, namanya Lighting Day. Lighting Day bukanlah hari libur nasional namun cukup ramai dirayakan kaum Hindu-Tamil di Srilanka di bulan November. Setiap rumah masyarakat Hindu menyalakan lampu minyak di beberapa area rumahnya dari sore hingga malam. Lampu minyak berupa cawan dari tanah liat yang diberi sumbu dan minyak. Tidak hanya di dalam rumah, mereka juga meletakannya di luar rumah. Toko dan tempat usaha pun juga melakukan ritual ini. Katanya sih untuk kelimpahan berkat. Saat Lighting Day, gw ikutan membantu menyalakan lampu minyak di minimarket seberang tempat tinggal gw. Totalnya lebih dari 70 lampu minyak. Sebelum lampu minyak dinyalakan, area toko dibersihkan terlebih dahulu sehingga saat lampu minyak dinyalakan harus melepas alas kaki.

Lighting Day
Ternyata orang Hindu juga mengenal puasa. Pada bulan oktober mereka melakukan puasa selama 21 hari. Metode puasanya adalah makan sekali sehari di malam hari, namun mereka masih diperkenankan untuk minum (teh dan susu diperbolehkan). Ada juga puasa di bulan November yaitu puasa selama 10 hari tidak makan sama sekali, namun diperbolehkan minum. Yang gw suka dari masyarakat Hindu di sini adalah pola hidup mereka yang kebanyakan vegetarian. Jadi menu makanan dan cemilan di kios makanan banyak yang dibuat dalam versi vegetarian (non meat). Bahkan menu makanan di panti jompo tempat gw tinggal juga bertema vegetarian setiap hari selasa dan jumat. Hal ini disebabkan penghuni panti jompo yang 70% beragama Hindu (walaupun panti jompo di bawah naungan yayasan Kristen). Bikin gw semangat untuk memutuskan vegetarian suatu saat nanti. Namun gw ragu saat nanti pulang ke Indonesia dan bertemu babi panggang dan mie babi, akan kuatkan iman vegetarian ku melawan bayangan gurihnya pork devil itu.

Selama ini gw ga pernah punya teman dekat yang beragama Hindu. Namun di Srilanka gw dikelilingi oleh masyarakat Hindu. Benar-benar pengalaman berharga. Walaupun gw ga mengimani ajaran mereka, namun banyak hal positif yang bisa gw pelajari. Sama hal nya dengan hal positif yang gw ambil saat gw berteman dengan muslim dan katolik. Mari berteman dengan banyak orang. Mari belajar dari banyak perbedaan. Mari menjalani peran sebagai manusia

We may have different religions, different languages, different colored skin, but we all belong to ONE human race –Kofi Annan-

Saturday, January 23, 2016

A Death leaves a Heartache

Selama berada di Srilanka, gw tinggal di Panti Jompo. Para jompo di panti ini diharuskan hidup mandiri: mulai dari mandi, makan, membersihkan kamar, hingga mencuci baju sendiri. Hanya jompo yang sudah lemah fisik dan yang mengalami gangguan jiwa yang dibantu oleh pengasuh di panti jompo. Beberapa dari jompo mengkonsumsi obat setiap harinya. Untuk jompo yang lemah dan sering pikun, biasanya obat disimpan di 1 ruangan dan akan diantar ke kamar para jompo jika waktu minum obat telah tiba.

Salah satu penghuni jompo yang selalu gw antar obatnya adalah Opa Alakanshuntaran yang berusia 75 tahun. Karena namanya panjang dan susah diucapkan, gw biasanya menyebutnya Opa Diabetes, yah memang opa ini mengidap penyakit diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol. Tiap pagi, siang, dan sore hari gw rutin mendatangi kamarnya untuk mengantarkan obat. Di pagi hari 7 butir obat, siang hari 2 butir obat, dan malam hari 7 butir obat. Opa sering ngajak gw ngobrol dengan bahasa Tamilnya karena dia tidak bisa berbahasa Inggris. Gw yang kemampuan bahasa Tamil masih di level prebasic, hanya bisa senyum dan akting seolah gw ngerti apa yang dia ucapkan. Dalam kesepiannya di usia senja, para jompo di panti memang tidak terlalu membutuhkan orang yang bisa diajak berdiskusi, namun mereka lebih membutuhkan orang yang sabar mendengarkan semua cerita mereka. I put my hundred ears here, and I keep my only one mouth closed.

Tiap bulan, opa diabetes rutin berobat ke RS pemerintah yang jaraknya 45 menit menggunakan bus kota. Opa masih sanggup pergi sendirian ke RS menggunakan bus walaupun harus melangkah pelan-pelan dan menggunakan tongkat. Istri opa sudah meninggal. Kedua anaknya sudah menikah dan tinggal di luar kota, jadinya opa ditempatkan di panti jompo. Setiap balik dari RS, opa selalu mendatangi gw dan menyerahkan semua obat yang diberikan RS: ada 10 jenis obat. Opa ini benar-benar menyadarkan gw untuk peduli kesehatan selagi muda, ngeri juga di usia tua harus mengkonsumsi 16 jenis obat setiap hari. Yang lebih miris, terkadang saat lagi datang ke kamarnya, gw mendapati semut-semut jahat sedang mengerubungi kaki opa tanpa disadarinya.

Sebulan belakangan ini, opa terlihat semakin lemah. Jarang berbicara dan lebih sering berbaring. Gw langsung bad feeling. Sekitar 2 minggu yang lalu, Opa ditemukan tidak sadarkan diri. Saat dicek kadar gulanya hanya 45, hipoglikemi. Setelah dilakukan pertolongan pertama, opa dibawa ke RS. Empat hari dirawat, opa diijinkan pulang ke panti jompo. Semenjak balik dari RS, keadaan opa semakin lemah dan hanya berbaring di tempat tidur. Kadang kalau dipanggil responnya lama. Kadar gulanya pun cenderung tinggi, selalu diatas 300 dan 400. Gw mulai menolak mengantarkan obat ke kamarnya dan meminta orang lain yang mengantarkan obat karena gw ga tega (dan takut) melihat keadaannya yang lemah. Dari dulu, gw selalu takut menjenguk kerabat atau teman yang sekarat di RS, gw ga tega melihat mereka yang berusaha melawan sakit atau terlihat pasrah sama maut. Walaupun gw ga pernah mengantar obat lagi, namun gw selalu mengintip kamarnya tiap sore. Pintu kamar opa memang sengaja selalu terbuka agar mudah terlihat jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan sama opa

Tiga hari yang lalu opa demam tinggi. Dokter pun meresepkan obat. Namun opa tetap demam dan kadar gulanya selalu di atas 400. Duhhhh bikin gw makin deg-degan. Kemarin pagi, tiba-tiba badan opa terasa sangat dingin dan kadar gula cenderung normal di angka 100. Anehnya sore hari badan kembali panas namun 1 jam kemudian dingin kembali. Gw dan para pengurus panti merasa kalau opa tidak akan lama lagi bertahan. Beberapa jam kemudian, saat akan disuapi untuk makan malam, opa tiba-tiba pingsan dan diketahui sudah tidak bernyawa. Opa diabetes meninggal

Seumur-umur, ini pertama kalinya gw “mengikuti” perjalanan kritis seseorang sampai maut menjemput. Walaupun gw bukan keluarganya, namun interaksi selama 5 bulan ini membuat gw merasa opa adalah keluarga baru gw. His death leaves something in my heart and my life. Memang setiap orang suatu saat pasti meninggal. Banyak orang berharap meninggal dengan dikeliling keluarga dan orang yang dikasihi. Namun opa diabetes sekarat dan meninggal dalam kesendirian dan kesepian di panti jompo, tanpa perhatian keluarga. Seorang oma di panti menghibur gw: “Orang datang ke dunia sendirian, baliknya yah sendirian juga. Yang bikin bahagia bukan dikelilingi keluarga saat menjelang maut, namun saat kita yakin bahwa hidup yang diberikan Tuhan sudah kita isi dengan penuh arti dan kita siap untuk kembali padaNya.”

Beberapa jam setelah opa diabetes meninggal, gw mulai ga suka tinggal di panti jompo ini. Gw berpikir, ini panti jompo isinya orang lanjut usia semua. Berapa banyak lagi para jompo di panti yang harus gw saksikan secara langsung sekarat dan meninggal? Gw teringat oma yang sering gw datangi kamarnya untuk numpang nonton TV. Oma ini sudah berumur 84 tahun. Oma bilang sejak 3 bulan belakangan dia merasa semakin lemah dan kesehatannya menurun. Apakah gw akan kehilangan dia juga dalam waktu dekat?

Tuhan menempatkan gw berada di tengah-tengah orang lansia pastinya bukan tanpa alasan. Banyak hal yang gw pelajari sejak tinggal bersama lansia: mulai dari menjaga kesehatan, mengisi masa muda dengan hal bermanfaat, dan berbagai macam pelajaran lainnya dengan tujuan “Agar tidak menyesal di hari tua.” Mereka juga mengajari gw memperhatikan sesama. Yah, para jompo yang tinggal di panti, tidak memiliki keluarga, sehingga mereka saling membantu dan memperhatikan sesama jompo. Berbuat baik memang tidak mengenal batasan usia dan batasan harta. Maybe the little things we do mean the most for other people. Ada seorang oma lumpuh di panti yang selalu manggil gw “my angel” karena setiap sore gw selalu datang ke kamarnya untuk membantu menyalakan obat nyamuk bakar di kamarnya dan mengisi penuh tekonya dengan air minum. Little things for me, but matter the most for her. So lets do the good things everyday as long as we still breathe.

At the end of our lives, we will not judged by how many diplomas we have received, how much money we have made or how many great things we have done. We will judged by “ I was hungry and you gave me to eat. I was naked and you clothed me. I was homeless and you took me in” (Mother Theresa)

Mungkin juga Tuhan menempatkan gw di panti jompo dan harus (terbiasa) melihat jompo yang sekarat dan meninggal untuk menyadarkan gw bahwa kehidupan di dunia bukanlah kehidupan yang kekal. Suatu saat gw akan kembali padaNya, kapanpun itu. Jadi gw harus selalu mempersiapkan diri untuk bertemu denganNya.

When I stand before God at the end of my life, I would hope that I would not have a single bit of talent left, and could say “I used everything YOU gave me.” –Erma Bombeck-

Selamat jalan Opa Diabetes. Terimakasih untuk interaksi 5 bulan yang sangat bermakna ini. Terimakasih sudah mengajariku arti dan akhir dari hidup ini. You stay safe with the angels there.

Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi. TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN (Ayub 1 :21).

Good bye Opa Diabetes


Tuesday, January 12, 2016

Kepo yang BerETIKA

Selama tinggal di Srilanka, sehari-hari gw beraktivitas di Rumah Sakit. Hal ini membuat gw bertemu dengan banyak orang baru (baca: pasien dan keluarganya) setiap hari. Karena gw tinggal di daerah yang bisa dikategorikan pedalaman, kehadiran gw yang secara fisiologis terlihat non-Srilanka, jadi kekepoan tersendiri buat mereka. Mereka sering bertanya : “asal dari mana.” Hal tersebut masih terjadi sampai sekarang. Kadang gw minta mereka menebak negara asal gw. Sampai dengan hari ini, belum pernah ada seorang pun yang dengan benar menjawab gw dari Indonesia. Kebanyakan mereka menebak gw dari Asia Timur: Cina, Korea, Hongkong, Taiwan, Jepang, bahkan Mongol (entah seperti apa penampakan orang Mongol). Bener-bener bikin gw ge-er dan merasa jadi bunga di sini, padahal di Indonesia gw merasa bagaikan lumpur. Selain Asia Timur, banyak juga yang mengira gw dari Filipina, Thailand, dan Singapur.

Jika mereka menebak gw dari negara Asia Timur, gw akan bantu ngasi ke clue ke mereka bahwa gw dari Asia Tenggara dan minta mereka menebak lagi. Kebanyakan mereka menebak Filipina atau Thailand. Ada apa dengan Indonesia? Mengapa fisiologi Indonesia terasa kurang orisinil. Padahal di Asia Tenggara penduduk Indonesia lebih dari 200 juta jiwa, kenapa malah lebih populer orang Filipin, Thailand, bahkan Singapore yang penduduknya cuman seiprit dari Indonesia. Kayanya Indonesia kurang go Internasional nih. Yang paling ngeselin, setelah gw bilang gw dari Indonesia, ada seorang Bapak yang langsung komen “Oh, so this is Indonesian girl” (sambil memandang tajam dari rambut sampai ke jempol kaki gw). Gw langsung pamit pergi, takut di tawar bokkk.

Kekepoan mereka ga berhenti di negara asal aja. Seringnya diikuti dengan pertanyaan tambahan soal umur. Agak berani juga nih mereka, rasanya di Indonesia jarang ada orang yang nanya soal umur sama orang yang baru dikenal. Awal-awal gw tinggal di Srilanka, gw seneng-seneng aja ditanya soal umur, karena biasanya mereka menduga umur gw lebih muda 3-5 tahun dari umur gw di KTP. Namun lama-lama gw jengkel juga ditanya umur, kok kayanya ga penting banget. Gw aja ga tertarik pengen tahu umur mereka. Sehari bisa ada 3 orang yang nanya umur. Belakangan ini, tiap ada yang nanya umur, gw akan jawab 35 tahun. Mereka sih sadar gw boong-bercanda. Dan gw berharap mereka juga sadar kalau gw ga suka ditanya umur. Mereka itu gatau apa yak kalau ada 2 pertanyaan yang HARAM buat wanita. UMUR dan BERAT BADAN (mirisnya, yang kepo sama umur gw kebanyakan berasal dari kaum hawa).

Setelah nanya umur, pertanyaan berikutnya adalah status pernikahan. Iniiii orangggg Srilanka padaaaaa kenapaaaaa sihhhhh. Bahkan pertanyaan ini pernah diajukan sama orang yang baru kenal di bus bahkan pegawai minimarket yang baru kenal. Apa yah untungnya informasi status pernikahan gw buat kehidupan mereka. Rasanya seumur-umur, gw ga pernah kepoin status pernikahan (dan umur) orang yang baru gw kenal, bahkan menanyakan langsung ke orangnya. Sering juga kalau gw simpatik sama orang (baca: naksir) terus gw cerita sama teman, teman gw bilang “Ih Yolan,,dia kan umurnya di bawah lo.” Atau “Ih Yolan, dia kan sudah nikah.” Lahhhh meneketehe,,kalau cuman simpatik mah ga peduli doi brondong atau suami orang. Toh ga dijadiin target jadi pasangan juga, hanya sekedar mengagumi keindahan karya ciptaan Tuhan.

Pertanyaan kepo lainnya yang sering ditanyakan sama orang lokal sini ke gw adalah agama gw. Entah mengapa, dari dulu gw ga suka kalau ditanya agama. Rasanya ga penting (banget). Gw ingat, saat berobat ke salah satu Rumah Sakit, karena pertama kali berobat jadinya gw harus ngisi formulir pendaftaran. Di situ tertera kolom agama pasien. Apa coba hubungannya agama sama niat berobat. Padahal Rumah Sakit ini dengan bangganya menyertakan kata Internasional di papan namanya. Sengaja itu kolom agama ga gw isi. Dan ternyata ga ngaruh tuh, gw tetap bisa berobat di sana. Jadi kenapa harus ada kolom agama ya? Pernah juga ada seorang teman kantor yang sering chat gw, perhatian, ngajak bercanda di chat, ngirim joke, dll. Suatu saat gw pasang foto profil gw yang sedang berada di gereja dengan latar belakang salib. Dia langsung chat confirm agama gw karena dari marga gw, jarang ada yang beragama nasrani. Gw kecewa sih dia chat confirm agama, perasaan gw langsung ga enak. Dan benar, setelah gw bilang gw nasrani (yang berbeda dengan agama dia), muai saat itu dia ga pernah chat gw lagi kecuali nanya hal penting soal kerjaan. Itu juga chat dengan bahasa kaku, formil, padat, singkat. Duhhh, sedihnya teramat sangat. Makanya gw agak takut juga pas di tanya agama sama masyarakat Srilanka, karena di daerah gw tinggal mayoritas beragama Hindu. Gw trauma “ga diajak main”. Untungnya kekuatiran gw ga terbukti. Mereka ramah dan mau bergaul sama gw. Bahkan saat natal gw diselamatin dan ada yang ngasi bingkisan dan kue. Fiuhhhh. If my best friend is different religion than me, so what? Nothing will keep me from praying for her safety, health, and happiness.

Share our similiarities, celebrate our differences (M. Scott Peck).

Dari semua kekepoan yang gw terima selama di Srilanka. Ada pertanyaan kepo yang bikin gw J3N6K3L B4nG3T. Pegawai minimarket, yang letaknya di seberang tempat gw tinggal, pernah nanya. “Kamu ngerokok ga?” Pertanyaan simple namun bikin gw bete sesaat.  Apaaa cobaaa maksudnya. Gw iseng jawab kalau gw ngerokok. Dia shock-terpana. Nah loh, kenapa pula dia shock. Terus langsung lanjut nanya “Minum Alkohol?” Gantiin gw yang shock-terpana. Sesaat gw merasa bahwa kepo dan TIDAK beretika itu beda tipis, lebih tipis dari kaus partai yang sering dibagikan saat kampanye pemilu. Gw bilang aja gw peminum alkohol. Bodo amat dah. Lo mau musuhin gw karena gw perokok dan peminum alkohol gw kaga peduli. Petugas Imigrasi Srilanka aja ga nanya status perokok-peminum ke gw saat gw ngajuin visa buat bisa tinggal di Srilanka.

Sah-sah saja memang penasaran dengan kehidupan seseorang, namun jangan sampai melupakan ETIKA dan apa tujuan menanyakan informasi personal kepada seseorang.  Kepada mereka yang menanyakan umur, status pernikahan, agama, bahkan status merokok-peminum alkohol ke gw, gw ga balik menanyakan hal tersebut ke mereka. Gw harap mereka sadar kalau gw ga tertarik (dan ga suka) di tanya seperti itu makanya gw ga nanya balik. Biarlah image seseorang tumbuh dari hubungan personal, perbuatan, dan perkataan yang terucap. Bukan dari generalisasi umur, agama, status pernikahan, rokok, maupun alkohol. Gw ga keberatan kok temenan sama berondong, orang tua, single, married, janda, duda, ateis, perokok, peminum, bahkan orang bertato. Asal bukan tukang jagal macam Rian Jombang aja, ngeri booook. To be my friend, you have to accept me as I am. Not as you want me to be. Gw ga pernah mengklaim diri gw lebih baik dari mereka yang perokok dan peminum. Dan gw bukan Tuhan yang punya hak menghakimi bahwa perokok dan peminum alkohol itu berlumur dosa.  

Maybe, the nicest people I’ve met were smoker, drink alcohol or covered in tattoos and piercing, while the most judgemental people I’ve met are the ones who go to church every Sunday (quotes).

You are different, you are my friend.



1 Januari di Srilanka

Sudah hampir 5 bulan gw tinggal di Srilanka. Sejauh ini, hanya 1 hal yang bikin gw ga suka sama Srilanka. Bukan karena makanannya yang beraroma kari-menyengat, bukan karena bahasanya yang susah dan memiliki 360 huruf, bukan karena panas-gersangnya di daerah tempat gw tinggal. Gw ga suka Srilanka karena ……eng ing eng…. tanggal 1 Januari tidak dijadikan hari libur nasional oleh pemerintah Srilanka. Tanya Kenapa.

Mereka merayakan Tahun baru di bulan April. Mungkin karena penduduk di Srilanka mayoritas beragama Budha (70%) dan Hindu (15%) yang memiliki formula penanggalan tahun tersendiri. Jadinya libur tahun baru mereka bukan 1 Januari. Masih masuk akal kalau mereka ga ngerayain Tahun Baru Masehi 1 Januari karena menggunakan kalender mereka sendiri dalam aktivitas sehari-hari, namun prakteknya mereka tetap menggunakan kalender Masehi tuh. Pas tengah malam pergantian tahun dari 31 Desember ke 1 Januari juga banyak petasan-kembang api berkumandang. Ada juga acara-acara di tempat hiburan untuk merayakan Tahun Baru Masehi 1 Januari ini. Berarti memang banyak warga yang ikut memeriahkan dan menikmati tahun baru 1 Januari. Lucunya lagi, pegawai pemerintah (dan beberapa karyawan swasta) hanya bekerja beberapa jam aja di tanggal 1 Januari, pas siang mereka bubar jalan. Tuhhh kannnn, mendingan sekalian aja lah 1 Januari dijadiin hari libur nasional. Di Indonesia yang mayoritas beragama muslim (menggunakan kalender Hijriah) namun tanggal 1 Januari ditetapkan hari libur nasional.

Kalender Januari Srilanka

Lalu kenapa gw sewot? Toh gw (hanya) pendatang yang cuman dikasi ijin tinggal setahun di Srilanka. Jadi begini, tanggal 31 Desember jam 22.30 di adakan ibadah tutup tahun di gereja. Tanggal 1 Januari jam 1.30 pagi baru nyampe kamar. Cuci muka, sikat gigi, dan siap bobo jam 2an pagi. Jam 6 sudah harus bangun karena ada ibadah awal tahun jam 7 pagi. Harusnya pulang ibadah bisa balas dendam tidur. Namun karena di kalender tanggal 1 Januari berwarna hitam, gw harus kembali beraktivitas di Rumah Sakit, fullll jadi zombie sampai jam 5 sore. Itulah alasan kenapa gw sewot sama hitamnya tanggal 1 Januari di kalender Srilanka. Selain itu, gw sirik sama orang-orang di belahan bumi lain yang libur di tanggal 1 Januari, sedangkan gw…. Mungkin pemerintah Srilanka menggunakan filosofi “Awali dengan kerja keras”. Jadi deh tanggal 1 Januari di itemin.

Hal yang lucu lagi dari kalender Srilanka adalah kejadian Bulan Purnama yang jadikannya tanggal merah (hari libur nasional). Entah apa yag dirayain. Siklus kejadian bulan purnama terjadi setiap bulan, jadi tiap bulan pastinya ada hari libur (asal bulan purnama ga pas hari sabtu atau minggu aja,,biar ga rugi). Andaikan siklus bulan purnama terjadi mingguan, betah deh gw tinggal di Srilanka,,xoxoxoxo. Selain itu, kenaikan Isa Almasih, tahun baru Hijriah, Isra Miraj tidak dijadikan hari libur di Srilanka.


Tanggal merah peringatan bulan purnama

Balik lagi soal tahun baru 1 Januari. Walaupun ibadah tutup tahun dimulai 31 Desember jam 22.30 malam, gw cukup kagum banyak jemaat yang datang. Padahal banyak jemaat yang rumahnya jauh dari gereja dan ini derah yang suepiiii buaaanget. Jam 7 malam aja udah jarang penampakan orang di jalan raya. Walaupun ibadah baru kelar jam 00.30 tengah malam, namun para jemaat masi semangat buat masak air dan menyuguhkan teh susu buat semua jemaat. Salut deh gw, padahal di sini masak masih pake kayu bakar. Di Indonesia yang masaknya pake kompor gas aja gw (dipastikan) ogah disuruh bikin teh susu tengah malam buat jemaat. Ahhhh,,lagi-lagi gw disentil sama yang namanya “Ketulusan Hati.” Gw juga sewot (lagi!!!) karena ibadah awal tahun baru 1 Januari dimulai jam 7 pagi. Padahal baru beres ibadah tengah malam jam 1 pagi. Mbok ya kenapa juga ga dimulai agak siangan dikit, misalnya jam 9 atau jam 10 gitu, biar mata ga terlalu nge-zombie. Walaupun ibadah dimulai (terlalu) pagi, namun tetap banyak jemaat yang datang dengan ”settingan” muka segar. Bikin gw malu datang ke gereja dengan muka ngantuk dan loyo. Langsung ubah setting muka jadi “segar”. Sesegar gajian di awal bulan.

Hari pertama di 2016 gw dapat rejeki. Tiba-tiba ada yang datang ngasi bingkisan atas nama gw. Ternyata ada seorang nenek penderita diabetes (yg biasa cek gula darah dan berobat di RS tempat gw beraktivitas) yang ngasi hadiah tahun baru. Gw emang suka ngobrol sama si nenek ini, walaupun si nenek ga terlalu fasih bahasa Inggris dan gw ga terlalu fasih bahasa sini (Tamil) yang ujung-ujungnya sering menjadikan teman gw yang orang lokal sini buat jadi translator. Yang nganterin hadiah itu cucu si nenek. Dia bilang itu hadiah natal dan tahun baru dari neneknya buat Indonesian Girl. Terharu. Padahal si nenek ga ngerayain natal. Gw dikasi 3 baju, 1 jeans, dan 1 sari. Wuuuuooow. Temen gw ngegoda gw, “Hari pertama di tahun 2016 aja, lo udah dapat rejeki, pasti tahun ini lo penuh berkah.” Gw hanya bisa meng-amin-kan karena bagi gw: setiap hari, setiap tahun gw yakin Tuhan selalu menyertai. Masalah (dan pergumulan) yang terjadi dalam hidup gw ga akan mengurangi rasa syukur atas semua berkat dan penyertaanNya sepanjang hidup gw sampai 2016 ini.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”.

Hadiah tahun baru dari pasien rumah sakit: 3 kaos,jeans,sari :)

Walaupun tahun baru sudah lewat, namun selama kue tahun baru masih tersisa di toples, rasanya masih diperbolehkan gw mengucapkan Selamat Tahun Baru. Semoga kita bisa menjalani hari-hari di depan dengan penuh makna dan tidak sia-sia serta menjadi pribadi yang lebih baik. Angkat dagu, tegakkan bahu, namun rendahkan hati.

Compare yourself only to who you were yesterday. Be your own competition (Quote).